Teheran – Iran melancarkan serangan rudal balistik kejutan ke arah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) serta Pusat Komando AS (CENTCOM) di Yordania pada Rabu (29/7/2026) di tengah berlangsungnya pertemuan diplomatik antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih.
Dilansir dari Al Jazeera, aksi militer tersebut diklasifikasikan oleh pihak Teheran sebagai tindakan preemtif alih-alih sebagai respons balasan atas operasi militer yang dilakukan Washington selama dua pekan terakhir.
Serangan ini menandai pergeseran taktik militer Iran yang sebelumnya cenderung hanya melakukan serangan balik setelah AS menggelar operasi ofensif di wilayah tersebut.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan melalui keterangan resmi yang dikutip IRIB bahwa serangan tersebut menargetkan fasilitas strategis AS dengan beberapa rudal balistik pada Rabu dini hari.
“Selama ancaman terhadap Republik Islam Iran berlanjut dan aksi ilegal dan jahat oleh pasukan Amerika terhadap kepentingan kami berlanjut, perlawanan pun akan terus berlanjut,” kata pihak IRGC.
Pihak CENTCOM mengonfirmasi via media sosial X bahwa mereka telah mendeteksi upaya serangan kejutan tersebut terhadap aset militer AS di Timur Tengah.
Militer AS mengeklaim seluruh rudal yang ditembakkan berhasil diintersep dan menegaskan bahwa pasukan mereka tetap berada dalam kondisi siaga tinggi.
Laporan dari Kantor Berita Jordan mencatat sedikitnya lima insiden intersepsi rudal terjadi di wilayah udara Yordania saat serangan berlangsung.
Insiden ini terjadi hanya dua hari setelah Presiden Donald Trump mengklaim adanya peluang untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran melalui jalur negosiasi.
“Mereka ingin bertemu dan kami sedang bertemu, kita lihat saja nanti apa yang terjadi,” kata Donald Trump kepada awak media.
Presiden AS tersebut sebelumnya sempat menghentikan serangan intensif terhadap Iran pada 24 Juli lalu sebagai bagian dari dinamika tekanan diplomatik yang ia terapkan.
Donald Trump menambahkan bahwa AS akan kembali menerapkan skema tekanan militer jika pembicaraan diplomatik yang sedang berlangsung gagal mencapai hasil konkret.
Mengenai koordinasi dengan Israel, Donald Trump mengakui adanya kedekatan hubungan dengan Benjamin Netanyahu meskipun terdapat perbedaan pandangan teknis terkait penanganan Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, sebelumnya telah menegaskan bahwa negaranya menolak skenario di mana AS memegang kendali atas penentuan waktu perang maupun perdamaian.
“Kami tidak akan membiarkan Amerika Serikat menentukan waktu perang dan perdamaian,” kata Esmaeil Baqaei dalam konferensi pers mingguan menurut kantor berita Mehr.
Esmaeil Baqaei menambahkan bahwa AS terjebak dalam situasi sulit yang mereka ciptakan sendiri selama lima bulan terakhir di kawasan Timur Tengah.






