Ecozone

Gubernur BI Mundur, Analis Wanti-wanti Potensi Aksi Jual Saham Perbankan

8
×

Gubernur BI Mundur, Analis Wanti-wanti Potensi Aksi Jual Saham Perbankan

Sebarkan artikel ini
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan pers di kantor BI Jakarta.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Senin (27/7/2026).

Jakarta – Mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada Senin (27/7/2026) telah memicu ketidakpastian signifikan di bursa saham domestik yang mendorong investor untuk mengambil sikap wait and see.

Dilansir dari MSN News, pergantian kepemimpinan di otoritas moneter tersebut kini menempatkan Destry Damayanti sebagai pengganti Perry Warjiyo dalam menjalankan fungsi Deputi Gubernur Senior BI.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa transisi kepemimpinan ini meningkatkan sensitivitas pasar terkait kredibilitas serta keberlangsungan kebijakan moneter nasional.

“Rupiah kemungkinan akan bereaksi negatif terhadap berita ini, dan menurut pandangan kami, BI mungkin perlu meningkatkan intervensi pasar,” kata Nafan Aji Gusta.

Gejolak ini diprediksi memicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Selain pasar saham, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun diperkirakan akan mengalami peningkatan yang sekaligus mendorong kenaikan tingkat suku bunga bebas risiko.

Isu mengenai independensi bank sentral tetap menjadi perhatian utama investor setelah penunjukan Thomas Djiwandono ke dalam Dewan Gubernur BI sebelumnya.

Mirae Asset Sekuritas tetap memproyeksikan adanya potensi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6% sebagai respons terhadap kondisi ekonomi saat ini.

“Meskipun kebijakan moneter mungkin akan lebih condong ke arah pro-pertumbuhan, yang berpotensi menimbulkan risiko terhadap stabilitas,” kata Nafan Aji Gusta.

Data RTI Business pada perdagangan intraday menunjukkan saham BBCA turun 1,20% ke level Rp 6.200, sementara BMRI terkoreksi 1,21% ke Rp 4.080.

Saham BBRI terpantau tergelincir 0,68% ke Rp 2.940 dan saham BBNI ikut melemah sebesar 1,14% ke harga Rp 3.480 per lembar.

Investor disarankan untuk melakukan akumulasi pada saham-saham pilihan yang memiliki fundamental solid serta valuasi yang relatif murah di tengah fluktuasi pasar.

Para pelaku pasar juga diminta untuk mencermati saham yang mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan tren dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin.

Secara teknikal, pergerakan IHSG cenderung bearish setelah membentuk pola long black opening marubozu candle.

Indikator Stochastics K-D saat ini menunjukkan sinyal negatif yang diperkuat pula oleh penurunan volume perdagangan di lantai bursa.

IHSG tercatat dibuka turun ke level 6.144 dengan total volume perdagangan mencapai Rp 2,18 miliar.

Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 153 ribu kali dengan total valuasi perdagangan senilai Rp 1,2 triliun dan kapitalisasi pasar sebesar Rp 10.835 triliun.