BeritaInternasional

Ancaman El Nino Godzilla Berpotensi Rugikan Ekonomi Afrika Hingga Rp358 Triliun

13
×

Ancaman El Nino Godzilla Berpotensi Rugikan Ekonomi Afrika Hingga Rp358 Triliun

Sebarkan artikel ini
el-nino-super-diperkirakan-picu-kerugian-ratusan-triliun-di-afrika
el nino super diperkirakan picu kerugian ratusan triliun di afrika

Jakarta – Fenomena cuaca El Nino diprediksi bakal memicu kerugian ekonomi bagi negara-negara Afrika dengan nilai fantastis, yakni berkisar antara US$10 miliar hingga US$20 miliar atau setara Rp179,2 triliun hingga Rp358,4 triliun.

Direktur Perubahan Iklim dan Pertumbuhan Hijau Bank Pembangunan Afrika (AfDB), Anthony Nyong, mengungkapkan bahwa guncangan iklim ini berpotensi memangkas produk domestik bruto (PDB) negara terdampak sebesar 1 hingga 2 persen.

Ia memperingatkan bahwa dampak bencana ini tidak akan berhenti dalam waktu satu tahun.

El Nino, yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, kerap memicu kekeringan ekstrem, banjir, serta badai di wilayah Afrika.

Para pakar cuaca mencemaskan fenomena ini bisa menjadi salah satu yang terkuat atau “El Nino Godzilla” jika tren pemanasan laut terus berlanjut.

Selain krisis pangan dan air, El Nino berisiko menekan keuangan negara, sektor perbankan, serta menambah beban utang akibat kerusakan infrastruktur.

Nyong menyebut banyak pemerintah Afrika kini terjebak dalam “perangkap pembiayaan iklim”.

Mereka terpaksa mengalihkan anggaran pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur demi merespons bencana darurat.

“Ketika guncangan ini terjadi, negara-negara mundur dua langkah,” ujar Nyong.

AfDB mengidentifikasi Sudan, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, Somalia, Mali, Burundi, dan Nigeria sebagai negara dengan risiko dampak paling berat.

Fenomena ini juga diyakini memicu migrasi massal akibat lonjakan harga pangan pokok, seperti jagung yang diprediksi naik dua kali lipat.

“Ketika El Nino datang, akan terjadi migrasi massal; Anda tidak akan tetap tinggal, Anda akan berpindah,” tegasnya.

Sektor pertanian Afrika diproyeksikan menderita kerugian sekitar US$327 juta, sementara produktivitas perikanan terancam turun hingga 4 persen.

Nyong menekankan pentingnya langkah preventif untuk memperkuat ketahanan iklim sebelum bencana besar terjadi.

Ia mengibaratkan langkah tersebut seperti membangun pagar di sekitar jurang daripada menanggung biaya ambulans setelah seseorang terjatuh.

Strategi penguatan ketahanan ini akan menjadi sorotan utama dalam perundingan iklim global di Turki pada November mendatang.