BeritaEkonomiPolitik

Sudirman Said Dorong Mahasiswa Bangun Kepemimpinan Intrinsik di Tengah Krisis Kepercayaan

78
×

Sudirman Said Dorong Mahasiswa Bangun Kepemimpinan Intrinsik di Tengah Krisis Kepercayaan

Sebarkan artikel ini
di-kongres-nasional-pmkri,-sudirman-said-ajak-aktivis-mahasiswa-bangun-kepemimpinan-intrinsik
di kongres nasional pmkri, sudirman said ajak aktivis mahasiswa bangun kepemimpinan intrinsik

RUTENG – Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN), Sudirman Said, mendorong aktivis mahasiswa untuk membangun kepemimpinan intrinsik sebagai kekuatan utama dalam mengawal perubahan bangsa.

Kepemimpinan intrinsik merujuk pada karakter dan nilai personal yang melampaui sekadar otoritas formal jabatan.

Sudirman menyampaikan gagasan tersebut di hadapan ratusan delegasi Kongres Nasional ke-34 Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Unika Indonesia St Paulus, Ruteng, Flores, Selasa (21/7/2026).

Ia menilai kepemimpinan di luar jabatan kini sangat relevan di tengah krisis kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Sudirman menyoroti merosotnya Indeks Persepsi Korupsi serta maraknya konflik kepentingan di lembaga penegak hukum.

Menurut dia, Indonesia tidak bisa lagi sekadar mengandalkan figur yang lahir dari kursi kekuasaan.

“Kita patut syukuri semua kemajuan yang telah dicapai sebagai bangsa, tetapi harus disadari bahwa keadaan saat ini tidak sedang baik-baik saja,” ujar Sudirman.

Ia memaparkan sejumlah data yang dinilai kontras dengan target Indonesia Emas 2045.

Dalam satu dekade terakhir, peringkat Indeks Persepsi Korupsi anjlok dari posisi 88 ke 109, meskipun ekonomi nasional tumbuh rata-rata 5 persen per tahun.

Kesenjangan ekonomi kian tajam karena satu persen orang terkaya menguasai lebih dari separuh total ekonomi nasional.

Selain itu, jumlah penduduk miskin bertambah lebih dari 10 juta orang.

Data menunjukkan terdapat 19 juta lulusan SMA yang tidak bekerja, tidak sekolah, maupun tidak mengikuti pelatihan.

Gejolak pasar keuangan, lanjut Sudirman, menjadi bukti nyata dari lemahnya tata kelola pemerintahan.

Ia menegaskan, meskipun negara mampu membungkam intelektual atau mengendalikan parlemen, pasar tetap menjadi penyeimbang yang tidak bisa diatur oleh kekuasaan.

“Pasar adalah pengontrol yang sangat kuat, dan ini buktinya bahwa akibat praktik korupsi serta menurunnya indeks demokrasi, inilah hasilnya,” jelasnya.

Kendati demikian, Sudirman tetap optimistis dengan berkaca pada sejarah perjalanan bangsa.

Ia mengingatkan bahwa setiap lompatan besar Indonesia, mulai dari Kebangkitan Nasional 1908 hingga era Reformasi, selalu digerakkan oleh kaum muda dan terpelajar.