Ecozone

Indonesia Tawarkan Proyek PLTS 100 GW kepada Investor Cina

22
×

Indonesia Tawarkan Proyek PLTS 100 GW kepada Investor Cina

Sebarkan artikel ini
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menawarkan proyek pengembangan PLTS berkapasitas 100 GW kepada investor China.

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengajak perusahaan asal China untuk menanamkan modal dalam proyek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) di Indonesia pada Sabtu (18/7/2026).

Dilansir dari keterangan resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, ajakan tersebut disampaikan dalam pertemuan bilateral bersama Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai, China, sehari sebelumnya.

Pemerintah Indonesia menargetkan kapasitas 100 GW tersebut dapat tercapai pada 2029 guna mendukung transisi energi dan hilirisasi industri sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Indonesia mengapresiasi keterlibatan investasi China dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata,” kata Airlangga.

Ia menilai proyek tersebut menunjukkan besarnya potensi kerja sama antara kedua negara dalam mendukung pengembangan energi bersih dan target penurunan emisi.

Airlangga menegaskan bahwa industri panel surya yang telah beroperasi di dalam negeri perlu diperkuat untuk membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi.

Sektor energi menjadi salah satu fokus utama mengingat China merupakan mitra dagang terbesar bagi Indonesia.

Data menunjukkan nilai perdagangan kedua negara mencapai 154,6 miliar dolar AS pada 2025 dengan tren pertumbuhan rata-rata 7,24 persen dalam kurun waktu 2021 hingga 2025.

Dalam aspek investasi, China tercatat sebagai salah satu dari tiga sumber penanaman modal asing terbesar di Indonesia.

Realisasi investasi China pada 2025 mencapai angka hampir 8,1 miliar dolar AS atau setara dengan 13 persen dari total investasi asing yang masuk ke tanah air.

Investasi tersebut mayoritas disalurkan ke sektor industri pengolahan, perdagangan, energi, properti, serta transportasi dan pergudangan.

Pertemuan tersebut juga membahas penguatan kerja sama melalui skema Two Countries Twin Parks (TCTP) yang telah menelurkan 30 nota kesepahaman dengan estimasi nilai investasi Rp37,1 triliun.

“Berbagai Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani perlu segera ditindaklanjuti menjadi investasi nyata,” kata Airlangga.

Ia mendorong pembentukan usaha patungan atau joint venture antara pelaku usaha kedua negara untuk mempercepat implementasi kerja sama TCTP.

Pemerintah Indonesia turut mengharapkan dukungan Kementerian Perdagangan China untuk mendorong keterlibatan perusahaan dalam pengembangan kawasan industri dan komersial.

Terkait neraca perdagangan, Indonesia berupaya memperluas akses pasar, meningkatkan ekspor produk bernilai tambah, serta memperkuat hilirisasi.

Kehadiran Danantara Indonesia diharapkan menjadi mitra strategis dalam menarik investasi berkualitas dan memperkuat kapasitas produksi nasional.

Di tingkat regional, Indonesia meminta dukungan China terkait pembentukan dan penempatan Sekretariat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) di Indonesia.

Pemerintah juga mendorong penguatan agenda RCEP 3.0 agar tetap relevan dalam merespons dinamika rantai pasok global dan transformasi digital.

Mengenai penyelenggaraan APEC 2026 di China, Indonesia menyatakan dukungan penuh terhadap keketuaan negara tersebut.

“Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga kepastian kebijakan dan menciptakan iklim investasi yang kondusif,” ujar Airlangga.