News

Tiga Helikopter Dikerahkan Padamkan Kebakaran di TPA Jatiwaringin

20
×

Tiga Helikopter Dikerahkan Padamkan Kebakaran di TPA Jatiwaringin

Sebarkan artikel ini
71f8637fd113191211b4cb3582752812.jpg
71f8637fd113191211b4cb3582752812.jpg

Tangerang, Fenesia.com – Operasi pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, kini memasuki fase krusial pada hari ketujuh dengan pengerahan 300 personel gabungan untuk menuntaskan bara api yang terperangkap di bawah tumpukan sampah.

Kekuatan penuh ini melibatkan sinergi lintas instansi mulai dari BPBD Kabupaten/Kota Tangerang, BNPB, TNI, POLRI, hingga elemen khusus seperti Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan dan relawan kemanusiaan.

Kompleksitas medan di TPA Jatiwaringin memaksa tim di lapangan menerapkan strategi khusus karena karakteristik lahan yang terbakar menyerupai kondisi lahan gambut.

Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, menyebut bahwa tantangan utama terletak pada api yang tidak sekadar berkobar di permukaan, melainkan terus membara jauh di dalam tumpukan material sampah.

“Di mana api tidak berada di permukaan namun membara di dalam tumpukan sampah. Upaya pemadaman dilakukan dengan berbagai metode. Satgas darat melakukan penyemprotan untuk api di permukaan juga injeksi untuk api di bawah permukaan. Satgas udara water bombing menjangkau dari atas,” kata dia dikutip dari BNPB pada Selasa (7/7/2026).

Operasi pemadaman ini didukung oleh berbagai peralatan berat dan teknologi canggih guna memastikan efektivitas di lapangan.

Sebanyak 19 unit mobil pemadam kebakaran dan 4 unit mobil tangki air dikerahkan untuk menyuplai kebutuhan air yang krusial bagi proses pendinginan lahan.

Selain itu, tim di lapangan mengoperasikan 8 unit ekskavator dan 8 unit bulldozer untuk membongkar tumpukan sampah agar proses injeksi air lebih maksimal.

Dukungan udara pun diperkuat dengan kehadiran 3 unit helikopter water bombing serta 2 unit drone monitoring untuk memetakan titik panas secara presisi.

Ia menjelaskan bahwa ketersediaan sumber air menjadi faktor penentu kelancaran logistik pemadaman bagi tim udara maupun darat.

“Kebutuhan air untuk pemadaman didukung dengan tersedianya danau atau embung yang berada di dekat lokasi kebakaran. Hal ini memudahkan helikopter melakukan pengisian ember sebagai water bombing dan selang air,” ujarnya.

Demi mempercepat proses pemadaman total, otoritas terkait memutuskan untuk mengoptimalkan jam operasional satgas darat hingga pukul 22.00 WIB setiap harinya.

Langkah ini diambil guna memastikan pembasahan lahan dilakukan secara menyeluruh dan tidak terputus oleh keterbatasan waktu kerja.

Tim Damkar bersama Manggala Agni kini berfokus pada sistem injeksi air langsung ke jantung tumpukan sampah menggunakan mesin khusus untuk memadamkan api yang tersembunyi.

“Tim Damkar dan Manggala Agni akan melakukan sistem injeksi dengan mesin untuk memasukkan air ke dalam tumpukan sampah. Metode ini sifatnya pembasahan lahan agar api dalam tumpukan segera padam. Dengan perpanjangan waktu operasi ini diharapkan upaya pemadaman berjalan secara optimal,” lanjutnya.

Hingga saat ini, koordinasi antarinstansi terus diperketat untuk memantau pergerakan api yang sulit diprediksi di bawah tumpukan sampah.

Pemerintah setempat berkomitmen untuk terus memantau situasi hingga kondisi di TPA Jatiwaringin benar-benar dinyatakan aman dari potensi kebakaran susulan.