Jakarta, Fenesia.com – Implementasi kebijakan komisi platform maksimal 8% untuk layanan transportasi roda dua, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026, memicu penyesuaian target harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) oleh kalangan analis.
Langkah ini dinilai sebagai tantangan struktural bagi profitabilitas segmen layanan on-demand (ODS) perusahaan dalam jangka panjang.
BRI Danareksa Sekuritas menjadi salah satu pihak yang melakukan revisi target harga saham GOTO.
Lembaga tersebut memangkas proyeksi harga dari Rp 80 menjadi Rp 70 per saham.
“SOTP (sum of the parts) equity value turun 12,3% menjadi Rp 74,3 triliun. Tactical bersifat netral,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, Jumat (3/7).
Penurunan target harga ini mencerminkan kekhawatiran terhadap proyeksi kinerja keuangan perusahaan di masa depan.
BRI Danareksa memperkirakan EBITDA segmen ODS pada 2027 akan tergerus sekitar 63%.
Proyeksi EBITDA tersebut turun dari sebelumnya Rp 1,8 triliun menjadi hanya Rp 672 miliar.
Revisi ini secara otomatis memengaruhi proyeksi adjusted EBITDA grup yang dipangkas antara 12% hingga 24,2%.
Meskipun terdapat tekanan pada profitabilitas, analis masih mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham GOTO.
Keputusan tersebut didasari oleh posisi kas perusahaan yang masih kuat sebesar Rp 23,8 triliun.
Selain itu, program pembelian kembali saham (buyback) sebesar Rp 3,5 triliun dinilai menjadi bantalan bagi nilai perusahaan.
Segmen teknologi keuangan (GoTo Financial) juga diproyeksikan akan menjadi tulang punggung profitabilitas grup ke depan.
Di sisi lain, UOB Kay Hian Sekuritas memberikan pandangan yang sedikit berbeda terkait dampak regulasi tersebut.
Analis UOB Kay Hian Sekuritas, Willinoy Sitorus, menyatakan bahwa dampak kebijakan ini relatif terbatas selama pembatasan komisi tidak meluas ke sektor lain.
Menurut dia, layanan transportasi roda dua hanya berkontribusi sekitar 7% terhadap pendapatan bersih GOTO.
“Layanan transportasi roda dua diperkirakan hanya menyumbang sekitar 7% terhadap pendapatan bersih GOTO,” ujar Willinoy Sitorus dikutip dari catatan risetnya, Jumat (3/7).
UOB Kay Hian tetap mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 78 per saham.
Angka tersebut menunjukkan potensi kenaikan sebesar 56% dari harga pasar saat ini yang berada di level Rp 50.
Namun, analis memperingatkan adanya risiko lebih besar jika regulasi diperluas ke layanan pengantaran makanan atau roda empat.
Bisnis ODS menyumbang sekitar 62% dari total pendapatan perusahaan, sehingga cakupan regulasi menjadi faktor krusial.
Perusahaan kini dihadapkan pada tantangan eksternal berupa potensi dikeluarkannya saham GOTO dari indeks MSCI pada Agustus 2026.
Likuiditas perdagangan saham yang terus menurun menjadi perhatian utama pasar.
Selain itu, sentimen negatif seperti lemahnya daya beli dan tingginya harga bahan bakar turut membayangi pergerakan harga saham di pasar modal.







