Jakarta, Fenesia.com – Bursa aset kripto BTSE Indonesia resmi memulai langkah operasionalnya di pasar domestik setelah mengantongi izin resmi sebagai pedagang aset keuangan digital (PAKD) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kehadiran entitas ini menandai babak baru bagi ekosistem investasi kripto di Tanah Air yang kini semakin terstandarisasi.
Perusahaan menargetkan perolehan basis pengguna mencapai 400 ribu hingga 500 ribu akun dalam tahun pertama beroperasi.
Strategi utama mereka adalah menarik minat investor lokal yang selama ini masih aktif bertransaksi melalui platform perdagangan kripto luar negeri.
Chief Strategy Officer BTSE Indonesia, Stephanie Kusnadi, menyatakan Indonesia tetap menjadi salah satu pasar kripto paling prospektif di Asia.
Menurutnya, dukungan jumlah investor yang masif serta kepastian regulasi yang terus dibangun pemerintah menjadi faktor utama BTSE memutuskan melakukan ekspansi ke Indonesia.
“Karena kami melihat pangsa pasar yang cukup besar di sini. Dan adanya peraturan-peraturan yang mengakomodasi perkembangan industri digital di Indonesia,” kata Stephanie, Kamis (3/7).
Ia menambahkan, regulasi mengenai real-world asset, tokenisasi, dan stablecoin yang sedang disiapkan OJK membuat industri kripto menjadi semakin menarik.
Stephanie mengakui masih banyak investor Indonesia yang lebih memilih menggunakan platform perdagangan kripto asing.
Kondisi tersebut ia nilai sebagai tantangan sekaligus peluang bagi BTSE Indonesia untuk menghadirkan layanan yang mampu bersaing secara sehat.
“Itu sebenarnya juga tantangan buat kita untuk membawa kembali user yang bermain di luar dengan cara membuat produk-produk yang lebih menarik,” ujarnya dikutip dari laman resmi perusahaan.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi bagi investor bahwa pajak di Indonesia sebenarnya tidak setinggi yang dibayangkan oleh masyarakat.
Untuk menarik investor, BTSE Indonesia mengandalkan platform yang telah berizin OJK dengan menyediakan sekitar 200 aset kripto sejak hari pertama peluncuran.
Perusahaan juga mengeklaim menawarkan biaya transaksi yang lebih kompetitif dibandingkan platform lain di pasar.
“Kami yakin kami akan meluncurkan platform yang menyediakan biaya transaksi terendah untuk sekarang,” papar Stephanie.
Selain itu, BTSE menyediakan reward menarik bagi para key opinion leader (KOL) dan afiliasi untuk memperluas jangkauan pasar.
BTSE melihat perubahan perilaku investor Indonesia sebagai momentum penting untuk memperluas jangkauan bisnis.
Stephanie menilai karakter investor saat ini jauh lebih matang dibandingkan masa booming kripto pada tahun 2021.
Pada masa lalu, sebagian besar masyarakat masuk ke pasar karena fenomena fear of missing out (FOMO).
Namun kini, investor dinilai lebih berhati-hati dan mulai memahami pentingnya manajemen risiko dalam berinvestasi.
“Indonesia itu cukup unik. Di 2021 market-nya orang FOMO. Tapi sekarang orang sudah mulai berhati-hati, orang sudah mulai matang,” kata Stephanie.
Perubahan tersebut membuat pendekatan edukasi kepada pengguna harus disesuaikan dengan tingkat pengalaman masing-masing.
Perusahaan berencana melakukan ekspansi ke kota-kota lapis kedua yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan investor cukup besar.
Sementara itu, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan OJK, Gonthor Ryantori, menegaskan bahwa izin usaha bukan sekadar formalitas, melainkan awal dari kepatuhan regulasi.
Ia mengimbau masyarakat untuk memilih platform perdagangan kripto yang telah mengantongi izin OJK demi perlindungan hukum yang lebih baik.
“Kalau investor memilih platform luar negeri itu tentu menjadi pilihan masing-masing. Tetapi mereka harus memahami risikonya karena platform tersebut tidak berada dalam pengawasan OJK,” tegas Gonthor.
OJK juga berharap para influencer dan komunitas kripto berperan aktif meningkatkan literasi keuangan digital masyarakat.
Edukasi diharapkan tidak hanya fokus pada potensi keuntungan, tetapi juga membangun pemahaman mengenai manajemen risiko dan investasi jangka panjang.







