Ekonomi

Indonesia Butuh Investasi Rp14.369 Triliun Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

15
×

Indonesia Butuh Investasi Rp14.369 Triliun Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Sebarkan artikel ini
5e3c79495e81d95ecfd56bc0be00fc91.jpg
5e3c79495e81d95ecfd56bc0be00fc91.jpg

Jakarta – Lembaga pengelola kekayaan negara atau Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia, Indonesia Investment Authority (INA), menyatakan bahwa Indonesia memerlukan dukungan modal jumbo senilai US$ 800 miliar atau setara dengan Rp 14.369 triliun untuk merealisasikan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.

Chief Executive Officer INA, Oki Ramadhana, menegaskan bahwa ambisi pertumbuhan ekonomi tersebut tidak dapat dicapai hanya dengan mengandalkan ketersediaan modal di dalam negeri.

Menurut Oki, keterlibatan investor global menjadi variabel penentu utama dalam memenuhi kebutuhan pendanaan yang masif tersebut.

“Penggerak utamanya tentu investasi global. Kalau hanya mengandalkan dana domestik, itu tidak cukup,” ujar Oki dalam acara Media Briefing Laporan Tahunan INA, Rabu (1/7).

Dia menjelaskan bahwa penanaman modal asing atau Foreign Direct Investment (FDI) memegang peranan krusial bagi akselerasi ekonomi nasional.

Investasi asing dinilai tidak hanya berperan sebagai penyedia pendanaan, tetapi juga menjadi katalisator bagi transfer teknologi dan penguatan kapabilitas industri dalam negeri.

Selain itu, arus modal asing juga diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, mendongkrak performa ekspor, serta mempercepat penyelesaian berbagai proyek infrastruktur strategis nasional.

Oki optimistis bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini masih sangat solid untuk menarik minat investor mancanegara.

Keyakinan tersebut didasari oleh tren pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten berada di atas rata-rata pertumbuhan global, serta tingkat inflasi yang tetap terjaga dalam batas aman.

Dia menambahkan, persepsi investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia telah mengalami perubahan positif yang signifikan.

Hal tersebut terbukti dari aktivitas Global Infrastructure Fund dalam dua tahun terakhir yang telah melakukan kajian mendalam terhadap sekitar 25 hingga 30 peluang investasi potensial di Indonesia.

“Ini luar biasa sekali, global investors the way they actually look at Indonesia,” tuturnya.

Di sisi kinerja operasional, INA mencatatkan pertumbuhan Asset Under Management (AUM) yang signifikan mencapai Rp 146,2 triliun pada tahun 2025.

Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 1,9 kali lipat dibandingkan dengan capaian pada tahun pertama operasional lembaga tersebut.

Dalam kurun waktu lima tahun, total investasi yang berhasil disalurkan INA bersama para mitra strategisnya telah menembus angka Rp 74,5 triliun.

Secara rinci, kontribusi investasi dari INA tercatat sebesar Rp 33,3 triliun, sementara mitra investasi menyumbang porsi sebesar Rp 41,2 triliun.

Alokasi investasi terbesar diserap oleh sektor transportasi dan logistik dengan porsi mencapai 44 persen dari total portofolio.

Sektor digital dan kecerdasan buatan (AI) menempati posisi kedua dengan penyerapan investasi sebesar 29,6 persen.

Sisanya terbagi ke dalam sektor energi hijau sebesar 9,8 persen, sektor kesehatan 9,2 persen, material maju 5,5 persen, serta sektor potensial lainnya sebesar 1,9 persen.

Sebagai lembaga pengelola investasi, INA berhasil mempertahankan peringkat internasional dari Fitch Ratings di level BBB, sementara untuk skala nasional, INA memegang peringkat AAA.

Dari sisi profitabilitas, INA membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 7,44 triliun sepanjang tahun 2025.

Perolehan laba tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 37,30 persen secara tahunan dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 5,42 triliun.

Laporan keuangan menunjukkan pendapatan INA melonjak 43,01 persen menjadi Rp 8,45 triliun dari posisi Rp 5,91 triliun pada tahun 2024.

Meskipun beban investasi tercatat meningkat 26,89 persen menjadi Rp 130,99 miliar dari tahun sebelumnya, performa keuangan INA tetap menunjukkan tren penguatan yang stabil.