Hawaii – Pemanfaatan suhu dingin dari laut dalam kini menjadi alternatif inovatif untuk menekan konsumsi energi pada sistem pendingin ruangan berskala besar.
Teknologi yang dikenal sebagai Sea Water Air Conditioning (SWAC) ini memanfaatkan air laut pada kedalaman 700 meter yang memiliki suhu konstan sekitar 5 derajat Celsius.
Proses kerjanya melibatkan pemompaan air laut dingin ke daratan untuk dialirkan melalui penukar panas atau heat exchanger.
Hawa dingin dari air laut tersebut digunakan untuk mendinginkan air yang bersirkulasi di dalam sistem pendingin gedung sebelum akhirnya dialirkan kembali ke laut.
Teknologi ini tercatat mampu memangkas konsumsi listrik untuk kebutuhan pendinginan hingga 80 hingga 90 persen dibandingkan sistem pendingin konvensional.
Pengembangan awal teknologi ini dilakukan di Hawaii Ocean Science and Technology Park yang dikelola oleh Natural Energy Laboratory of Hawaii Authority (Nelha).
“Sistem serupa kini telah digunakan di berbagai belahan dunia, termasuk Swedia, Belanda, Kanada, dan New York,” demikian dikutip dari situs Nelha, Senin (29/6).
Selain untuk gedung, potensi pendinginan berbasis air laut juga telah dilirik oleh industri pusat data global.
Microsoft sempat melakukan eksperimen melalui Project Natick dengan menempatkan kapsul berisi 864 server di dasar Laut Utara selama dua tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa air laut mampu menjadi pendingin yang efektif dengan tingkat kegagalan server yang jauh lebih rendah dibandingkan pusat data daratan.
Namun, proyek tersebut tidak dilanjutkan ke tahap komersial karena kendala biaya yang tinggi serta kompleksitas dalam penggantian komponen.
Meskipun demikian, eksperimen tersebut menegaskan bahwa laut memiliki potensi besar sebagai sumber pendinginan yang efisien.
Di Indonesia, kondisi geografis di wilayah Bali, Sulawesi Utara, Maluku, hingga Nusa Tenggara dinilai sangat mendukung penerapan teknologi SWAC.
Kawasan tersebut memiliki kedalaman laut yang relatif dekat dari garis pantai, serupa dengan syarat teknis yang dibutuhkan untuk operasional SWAC.
Selama ini, karakteristik perairan tersebut baru sebatas dikaitkan dengan potensi Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) untuk pembangkit listrik.
Kementerian ESDM mencatat Indonesia memiliki potensi OTEC sekitar 41 gigawatt yang tersebar di sedikitnya 17 lokasi strategis.
Hingga saat ini, pemanfaatan air laut untuk pendinginan belum masuk dalam peta jalan strategi pemerintah dalam menghadapi lonjakan kebutuhan energi pendinginan.
Pemerintah sendiri telah meluncurkan Indonesia National Cooling Action Plan (I-NCAP) pada 2024 bersama sejumlah lembaga internasional.
Strategi tersebut menargetkan pengurangan konsumsi listrik untuk pendinginan hingga 57 persen pada 2040 dibandingkan skenario normal.
Fokus utama I-NCAP saat ini masih terbatas pada efisiensi perangkat AC, desain bangunan berkelanjutan, serta penggunaan refrigeran rendah emisi.
Padahal, kebutuhan pendinginan global diprediksi melonjak tajam seiring dengan tren pemanasan global yang memicu suhu ekstrem.
International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan listrik global akan tumbuh rata-rata 3,6 persen per tahun hingga 2030, terutama akibat penggunaan AC.
Laporan Global Cooling Watch 2025 dari UNEP memperkirakan kebutuhan pendinginan dunia bisa meningkat lebih dari tiga kali lipat pada 2050.
Tekanan terhadap sistem kelistrikan diperburuk oleh lonjakan penggunaan kecerdasan buatan atau AI yang membutuhkan pendinginan masif pada pusat data.
Banyak pusat data saat ini masih mengandalkan sistem menara pendingin yang boros air dan berpotensi memicu krisis air tanah di lokasi operasionalnya.
Dengan modal alam yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengadopsi teknologi pendinginan berbasis air laut sebagai solusi berkelanjutan.







