Ekonomi

Pasokan Melimpah, Harga Minyak Dunia Merosot Dekati US$ 70

27
×

Pasokan Melimpah, Harga Minyak Dunia Merosot Dekati US$ 70

Sebarkan artikel ini

Fluktuasi harga ini dipicu oleh akumulasi pasokan yang melimpah di pasar global serta adanya optimisme terkait progres diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.

4e12832ca407e2713587d8de44b4c543.jpg
4e12832ca407e2713587d8de44b4c543.jpg

Singapura – Harga minyak mentah dunia kembali mengalami tren penurunan signifikan dan kini mendekati level psikologis US$ 70 per barel.

Fluktuasi harga ini dipicu oleh akumulasi pasokan yang melimpah di pasar global serta adanya optimisme terkait progres diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data perdagangan terkini, harga minyak Brent tercatat mengalami koreksi sebesar 0,9 persen menjadi US$ 73,10 per barel pada pukul 09.01 waktu Singapura.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) telah menembus angka lebih rendah, yakni berada di posisi US$ 69,76 per barel.

Kondisi pasar saat ini ditandai dengan membanjirnya tawaran pasokan minyak mentah yang berasal dari wilayah Timur Tengah dan Afrika.

Peningkatan ketersediaan stok tersebut secara langsung memberikan tekanan terhadap harga minyak fisik, mulai dari produksi Angola hingga Uni Emirat Arab.

Secara teknikal, indikator minyak Brent bahkan telah berbalik ke struktur contango yang bersifat bearish pada Rabu (24/6).

Perubahan struktur pasar ini tercatat sebagai yang pertama kalinya terjadi sejak konflik geopolitik di kawasan tersebut pecah.

Tren penurunan ini merupakan kontras tajam dibandingkan puncak harga yang terjadi pada awal Maret lalu.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, harga WTI sempat menyentuh level US$ 67,02 per barel, yang hanya terpaut tipis di atas harga sebelum masa konflik.

Sebagai catatan, harga WTI sempat melonjak drastis hingga menembus angka US$ 119 per barel saat ketegangan di Timur Tengah memuncak.

Kondisi serupa dialami oleh minyak Brent yang sebelumnya pernah mencapai titik tertinggi di kisaran US$ 140 per barel akibat eskalasi perang.

Selain faktor melimpahnya pasokan, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perundingan damai yang tengah berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.

Pembicaraan antara kedua negara tersebut mengindikasikan adanya kemajuan signifikan dalam upaya mengakhiri ketegangan, meskipun klaim dari masing-masing pihak masih kerap berbeda.

Hingga saat ini, kedua negara masih melakukan perundingan lanjutan yang mencakup isu krusial seperti program nuklir.

Selain itu, pembahasan mengenai gencatan senjata di Lebanon hingga kini masih menghadapi berbagai hambatan teknis dan politis.

Namun, optimisme awal terhadap tercapainya kesepakatan jangka panjang telah mengubah perilaku logistik di jalur perdagangan utama.

Jumlah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz kini terpantau meningkat dengan sinyal satelit yang tetap menyala secara terbuka.

Associate Dean di Center for Global Affairs, New York University, Carolyn Kissane, menilai bahwa dinamika fundamental pasar saat ini sedang mengalami pergeseran.

Menurutnya, gagasan bahwa pasar kini beralih ke kondisi pasokan yang lebih besar dengan permintaan yang lebih rendah benar-benar telah mendorong penurunan harga secara berkelanjutan.