Jakarta – Sinyal relokasi industri otomotif dari Indonesia menuju negara lain kembali mengemuka. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengungkapkan adanya rencana dua perusahaan komponen otomotif asal Jepang untuk memindahkan basis operasional mereka ke luar negeri.
Langkah ini dikhawatirkan akan berdampak signifikan terhadap tenaga kerja di dalam negeri. Mengingat skala perusahaan yang tergolong raksasa, potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal menjadi ancaman nyata bagi ribuan karyawan yang selama ini bergantung pada industri tersebut.
Said Iqbal, yang juga menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, menyampaikan informasi tersebut melalui kanal YouTube resmi pada Minggu (21/6/2026). Ia menyebut kedua perusahaan tersebut memiliki inisial PT J dan PT S.
Menurut Iqbal, keputusan prinsipal perusahaan di Jepang untuk melakukan relokasi dipicu oleh ketidakpastian situasi global saat ini. Selain itu, terdapat pergeseran strategi bisnis yang dilakukan perusahaan untuk merespons dinamika pasar internasional.
Perusahaan-perusahaan tersebut berencana melakukan diversifikasi produk dengan berfokus pada pengembangan kendaraan listrik. Berdasarkan informasi yang dihimpun Iqbal, pengembangan tersebut justru diarahkan ke Vietnam, bukan di Indonesia.
Vietnam dinilai oleh pihak prinsipal sebagai negara yang lebih produktif untuk mendukung rencana strategis tersebut. Meski demikian, Iqbal menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut tidak serta-merta menutup seluruh operasionalnya di Indonesia.
Upaya mitigasi kini tengah disiapkan untuk menekan dampak negatif dari rencana relokasi ini. Iqbal menyatakan akan segera melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah pusat untuk mencari jalan keluar terbaik.
Pemerintah bersama serikat buruh direncanakan akan membuka ruang negosiasi dengan pihak manajemen perusahaan. Tujuannya adalah meyakinkan prinsipal di Jepang agar tetap mempertahankan basis produksi mereka di Indonesia.
Secara paralel, instruksi telah diberikan kepada Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) untuk segera menggelar diskusi dengan perusahaan terkait. Hal ini dilakukan guna memastikan hak-hak pekerja tetap terlindungi selama proses negosiasi berlangsung.
Iqbal juga telah menyampaikan laporan mengenai situasi ini kepada Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini diambil agar pemerintah dapat mengambil kebijakan strategis dalam menjaga iklim investasi otomotif nasional.
Konfirmasi mengenai isu ini datang dari Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIIAM), Rachmat Basuki. Ia membenarkan adanya potensi relokasi tersebut, meski enggan merinci identitas spesifik perusahaan yang dimaksud.
Rachmat menyebut salah satu perusahaan yang akan pindah merupakan produsen besar untuk komponen wiring harness yang menjadi penyuplai utama bagi industri otomotif. Baginya, langkah relokasi ini merupakan sinyal serius bagi pemerintah.
Jika perusahaan tersebut benar-benar memindahkan produksinya ke Vietnam, maka hal itu membuktikan bahwa iklim usaha di negara tersebut dianggap lebih menguntungkan dibandingkan Indonesia. Kondisi ini harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera membenahi kebijakan dan iklim investasi.
Rachmat menambahkan bahwa fenomena ini serupa dengan apa yang sebelumnya terjadi pada industri tekstil dan elektronika. Kini, tren tersebut mulai merambat ke sektor otomotif, seiring dengan pesatnya perkembangan industri manufaktur di Vietnam yang semakin kompetitif di kawasan Asia Tenggara.







