Jakarta – Manajer investasi di pasar modal Indonesia menegaskan tetap konsisten mengedepankan strategi berbasis fundamental dalam mengelola portofolio di tengah dinamika sentimen global. Langkah ini diambil merespons hasil tinjauan aksesibilitas pasar yang dirilis oleh MSCI pada Jumat (19/6/2026).
Pelaku industri pasar modal menyatakan bahwa keputusan investasi tidak akan dilakukan secara reaktif hanya berdasarkan satu laporan atau sentimen jangka pendek. Keputusan strategis tetap merujuk pada tujuan jangka panjang investor serta kondisi fundamental perusahaan.
Deputy Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Triwira Tjandra, menyatakan bahwa pihaknya tidak melakukan perubahan alokasi aset secara mendadak setelah MSCI mempertahankan posisi Indonesia yang memenuhi 17 dari 18 indikator aksesibilitas pasar. Menurut Wira, langkah reaktif bukanlah kebijakan yang tepat dalam menghadapi fluktuasi pasar.
Ia menekankan bahwa perusahaan tetap fokus pada pendekatan fundamental. Strategi investasi yang disusun sejak awal tetap dipertahankan guna mencapai target yang telah ditetapkan bagi para nasabah dalam jangka panjang.
Wira menambahkan bahwa perhatian utama pelaku pasar saat ini seharusnya diarahkan pada tindak lanjut regulator terkait catatan yang diberikan MSCI. Fokus utama mencakup aspek transparansi pasar modal serta efektivitas arus informasi kepada para investor.
Dalam kondisi pasar saat ini, reksadana pendapatan tetap dinilai menjadi instrumen yang paling menarik bagi investor. Potensi penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) menjadi salah satu pendorong utama yang dapat memicu kenaikan harga obligasi serta membuka peluang keuntungan modal atau capital gain.
Instrumen berbasis obligasi diprediksi akan diuntungkan ketika siklus suku bunga berada di dekat puncak dan mulai menunjukkan tren melandai. Wira menjelaskan bahwa pada fase tersebut, instrumen berbasis obligasi biasanya akan mendapatkan manfaat lebih cepat dibandingkan kelas aset lainnya.
Selain itu, reksadana pendapatan tetap menawarkan profil risiko yang lebih terukur. Instrumen ini dianggap mampu memberikan perlindungan lebih baik di tengah volatilitas pasar saham serta ketidakpastian menjelang pengumuman final klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI pada 23 Juni 2026.
Dari sisi aliran dana, penurunan premi risiko Indonesia berpotensi menarik kembali minat investor asing untuk masuk ke pasar obligasi domestik. Kondisi ini diharapkan menjadi katalis positif tambahan bagi kinerja instrumen pendapatan tetap di dalam negeri.
Prospek obligasi dinilai tetap menjanjikan dengan mempertimbangkan kombinasi faktor makroekonomi global serta ekspektasi arah kebijakan suku bunga ke depan. Meski demikian, Wira tetap menyarankan agar investor tidak mengabaikan potensi dari reksadana saham.
Menurutnya, reksadana saham tetap layak dipertimbangkan bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang serta toleransi risiko yang lebih tinggi. Valuasi pasar saat ini yang berada di bawah rata-rata historis menjadi dasar pertimbangan mengapa instrumen ini masih relevan untuk dikoleksi.
Terkait hasil tinjauan MSCI, Wira menilai laporan tersebut memberikan sentimen yang cukup positif bagi pasar. Laporan itu dianggap mampu meredakan kekhawatiran pelaku pasar mengenai kemungkinan penurunan status Indonesia menjadi frontier market.
Walaupun mayoritas pelaku pasar menilai risiko penurunan status relatif rendah, konfirmasi resmi dari MSCI tetap harus dinantikan. Keputusan final mengenai klasifikasi pasar Indonesia akan diumumkan secara resmi pada 23 Juni 2026 mendatang.







