Ecozone

BI Perpanjang Relaksasi Kartu Kredit, Ini Alasan di Baliknya

19
×

BI Perpanjang Relaksasi Kartu Kredit, Ini Alasan di Baliknya

Sebarkan artikel ini
24bfee665c9185f9a205aee4ed495f91.jpg
24bfee665c9185f9a205aee4ed495f91.jpg

Jakarta – Bank Indonesia (BI) secara resmi memperpanjang kebijakan relaksasi kartu kredit hingga 31 Desember 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya otoritas moneter dalam menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga di tengah kondisi perekonomian yang masih dibayangi oleh berbagai tantangan global.

Melalui perpanjangan kebijakan ini, batas minimum pembayaran atau minimum payment kartu kredit tetap ditetapkan sebesar 5 persen dari total tagihan nasabah. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan ketentuan normal yang berlaku, yakni sebesar 10 persen.

Selain mempertahankan batas pembayaran minimum, Bank Indonesia juga memperpanjang kebijakan terkait denda keterlambatan pembayaran kartu kredit. Besaran denda tetap dibatasi maksimal 1 persen dari total tagihan, dengan nilai nominal tidak melebihi Rp 100.000.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menjelaskan bahwa keputusan perpanjangan ini didasari oleh tingginya ketidakpastian global yang memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional. Menurutnya, gejolak geopolitik yang terjadi di Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memiliki potensi besar dalam menekan daya beli masyarakat.

Filianingsih menuturkan bahwa kondisi tersebut berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi domestik jika tidak dimitigasi dengan kebijakan yang tepat. Oleh karena itu, perpanjangan relaksasi kartu kredit menjadi salah satu instrumen kebijakan sistem pembayaran yang bersifat pro-growth atau mendukung pertumbuhan ekonomi, sembari tetap memastikan risiko kredit di industri perbankan tetap terjaga dengan baik.

Sebelumnya, kebijakan relaksasi kartu kredit ini dijadwalkan berakhir pada 30 Juni 2026. Namun, dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi terkini, BI memutuskan untuk menambah durasi pelonggaran tersebut selama enam bulan ke depan guna memberikan ruang fleksibilitas arus kas bagi nasabah, khususnya kelompok masyarakat kelas menengah.

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa transaksi kartu kredit masih mencatatkan pertumbuhan positif di tengah tantangan daya beli yang melambat. Hingga Mei 2026, volume transaksi kartu kredit tercatat mencapai 45,48 juta transaksi, atau tumbuh sebesar 8,68 persen secara tahunan atau year on year (YoY).

Sementara itu, dari sisi nilai transaksi, tercatat angka sebesar Rp 42,93 triliun. Capaian tersebut mencerminkan peningkatan sebesar 13,44 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Filianingsih menambahkan bahwa kartu kredit telah terbukti berperan sebagai instrumen penyangga atau buffer bagi masyarakat dalam melakukan konsumsi. Berdasarkan data industri, porsi nasabah yang secara konsisten memanfaatkan fasilitas minimum payment sebesar 5 persen berada di kisaran 15 persen.

Pengguna fasilitas ini didominasi oleh segmen kelas menengah yang memerlukan fleksibilitas dalam mengatur keuangan mereka. Bank Indonesia menilai bahwa angka tersebut menunjukkan kebijakan relaksasi masih sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Jika relaksasi dihentikan dan batas pembayaran minimum dikembalikan ke level normal sebesar 10 persen, BI khawatir beban masyarakat akan meningkat secara signifikan. Hal tersebut berpotensi menekan konsumsi rumah tangga lebih dalam dan meningkatkan risiko kredit di sektor kartu kredit. Dengan memperpanjang kebijakan ini, Bank Indonesia berharap dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat dari guncangan eksternal yang tidak menentu.

0c01e8520981e2e162a3ba12ae5f3040.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kurs rupiah tertekan, Bank Indonesia (BI) pun memutuskan kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17–18 Juni 2026. Kenaikan tersebut menyusul langkah serupa yang dilakukan di luar jadwal pada Selasa (9/6), sehingga secara kumulatif BI telah menaikkan suku bunga BI rate sebesar 100 bps sejak Mei 2026. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede…

40412930c7897b2ffd8b51654a6c89a8.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emiten produsen batubara terafiliasi Grup Sinar Mas, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) mengalami penurunan kinerja keuangan dalam tiga bulan pertama 2026. Peluang perbaikan kinerja cukup terbuka pada sisa 2026, meski hal itu bergantung pada realisasi kebijakan relaksasi produksi dan perkembangan harga batubara global. Berdasarkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha GEMS tercatat sebesar US$…

96e5f6266300f6b20a72f06e6f1dccb5.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Usai pengumuman terbaru dari MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,078% ke level 6.177,14 pada penutupan perdagangan Jumat (19/6), setelah sempat bergerak volatil dengan kecenderungan melemah. Berdasarkan tinjauan aksesibilitas pasar global yang dirilis MSCI pada Kamis (18/6), Indonesia mengalami penurunan level pada kriteria arus informasi dari positif menjadi negatif. Keputusan MSCI tersebut…

8126ab4f7b98eef2cf2f7ebdd8abe267.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar modal Indonesia kembali mendapat sorotan pasca MSCI merilis penilaian dan memberikan catatan. Dalam MSCI Global Market Accessibility Review yang dirilis Jumat (19/6/2026) dini hari waktu Indonesia, MSCI masih menyoroti beberapa hambatan struktural yang membuat akses pasar Indonesia dinilai kurang kompetitif dibanding negara emerging market lainnya. MSCI pun secara eksplisit menurunkan penilaian Information Flow dari…

f0a96d46f5e186131dda32492bd9ede8.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) berpotensi pemulihan, seiring stabilisasi harga batubara global dan efisiensi operasional yang dilakukan. Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, prospek kinerja BSSR masih ditopang oleh harga batubara yang bertahan di atas US$ 65 per ton serta permintaan dari kawasan Asia yang relatif solid. “Kami melihat pemulihan kinerja BSSR…