Ecozone

Strategi Memilih Saham Properti Saat Suku Bunga Tinggi

15
×

Strategi Memilih Saham Properti Saat Suku Bunga Tinggi

Sebarkan artikel ini
20866970c4279fe48eb13beaefb9a5ff.jpg
20866970c4279fe48eb13beaefb9a5ff.jpg

Jakarta – Sektor properti di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan sepanjang tahun 2026. Hingga penutupan perdagangan Jumat (19/6/2026), indeks IDX Properties and Real Estate tercatat terperosok hingga 37,27 persen sejak awal tahun atau secara year to date (YTD).

Penurunan ini menempatkan sektor properti sebagai sektor dengan kinerja paling rendah dibandingkan indeks sektoral lainnya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan catatan akhir tahun 2025, di mana indeks properti sempat membukukan kenaikan signifikan sebesar 54,98 persen YTD. Bahkan, dalam akumulasi tiga tahun terakhir, indeks ini sempat mencatatkan pertumbuhan sebesar 64,91 persen.

Namun, sejumlah emiten properti berkapitalisasi besar justru menunjukkan tren pelemahan yang konsisten dalam tiga tahun terakhir. Data RTI mencatat saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) terkoreksi 23,44 persen YTD dan 57,08 persen dalam tiga tahun. Saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) juga melemah 33,73 persen YTD dan 51,11 persen dalam tiga tahun.

Tekanan serupa dialami PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yang sahamnya turun 38,67 persen YTD serta 50,67 persen dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) mencatatkan koreksi 24,85 persen YTD dan 48,16 persen selama periode tiga tahun.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menilai pelemahan kinerja tahun ini merupakan dampak dari pembalikan euforia pasar tahun 2025. Menurutnya, kenaikan indeks tahun lalu banyak didorong oleh saham-saham spekulatif dengan likuiditas tipis, bukan oleh emiten dengan fundamental yang kuat.

Ester menambahkan, kondisi pasar saat ini diperberat oleh berbagai sentimen negatif. Mulai dari pembekuan indeks MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, hingga kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate). Hingga Juni 2026, BI telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali hingga mencapai posisi 5,75 persen.

Menurut Ester, bobot kapitalisasi pasar yang didominasi oleh PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) turut memberikan tekanan pada indeks properti tahun ini. Sementara itu, emiten properti dengan fundamental baik justru mengalami de-rating struktural sejak 2020 akibat ketidakpastian monetisasi cadangan lahan, suku bunga tinggi, serta melemahnya daya beli masyarakat.

Pandangan senada disampaikan Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan. Ia menyoroti aksi rotasi modal asing dan pelemahan kurs rupiah ke level Rp 17.804 per dolar AS sebagai pemicu utama. Emiten yang memiliki beban utang obligasi valuta asing tinggi dinilai memiliki risiko paling besar terkait restrukturisasi utang.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menambahkan bahwa penurunan ini merupakan konsekuensi dari koreksi teknikal setelah reli yang terjadi di awal tahun. Selain itu, faktor tingginya rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) serta belum munculnya katalis re-rating menjadi beban tambahan bagi emiten properti.

Meski demikian, sektor kawasan industri dinilai tetap solid di tengah kenaikan suku bunga. David Kurniawan menjelaskan bahwa sektor ini ditopang oleh permintaan lahan untuk pusat data, logistik kendaraan listrik, dan relokasi pabrik. Pelemahan rupiah justru memberikan keuntungan bagi emiten di sektor ini karena pendapatan sewa dari penyewa asing umumnya berbasis dolar AS.

Untuk strategi investasi, para analis menyarankan investor untuk lebih selektif. Wafi menyarankan pemilihan emiten dengan pendapatan berulang yang kuat serta rasio utang yang terkendali. Sementara itu, Ester melihat saham PT Jababeka Tbk (KIJA) memiliki prospek menarik karena bertumpu pada permintaan industri yang relatif lebih terlindung dari sensitivitas suku bunga kredit pemilikan rumah dibandingkan emiten residensial murni.

465cbbf2ad8b3280036a417fa7aae692.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun pada Sabtu (20/6/2026). Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.668.000. Harga emas Antam itu turun Rp 5.000 jika dibandingkan dengan harga pada Jumat (19/6/2026) yang berada di level Rp 2.673.000 per gram. Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp 2.401.000 per gram. Harga…

35034bc213e112ea41cd3dcfd5c452e5.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham-saham Danantara tampaknya menjadi salah satu penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah kondisi pasar yang masih rawan terhadap volatilitas dan ketidakpastian. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX BUMN20 yang berisi 20 saham Danantara memang mengalami pelemahan 17,28% secara year to date (ytd) atau sejak awal tahun ke level 315,2 hingga Jumat (19/6/2026). Namun, kinerja indeks ini masih lebih…

3fd4b158f30619f80557e6f171f532f2.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Usai pengumuman terbaru dari MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,078% ke level 6.177,14 pada penutupan perdagangan Jumat (19/6), setelah sempat bergerak volatil dengan kecenderungan melemah. Berdasarkan tinjauan aksesibilitas pasar global yang dirilis MSCI pada Kamis (18/6), Indonesia mengalami penurunan level pada kriteria arus informasi dari positif menjadi negatif. Keputusan MSCI tersebut…

9fb4b29103d84310a10f36e5b2bae081.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) sepanjang tahun berjalan telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) secara year-to-date (YTD) menjadi 5,75%, langkah yang ditempuh di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah. Kebijakan ini mulai merambat ke industri perbankan, meski dampaknya belum sepenuhnya terasa pada kuartal II 2026. Analis CGS International Securities Owen Tjandra dalam riset yang dirilis 15 Juni 2026…