BeritaPolitik

Pentagon Pakai Grok AI untuk Identifikasi Target Serangan ke Iran

18
×

Pentagon Pakai Grok AI untuk Identifikasi Target Serangan ke Iran

Sebarkan artikel ini
grok-ai-dipakai-pentagon-buat-luncurkan-2.000-misil-ke-iran
grok ai dipakai pentagon buat luncurkan 2.000 misil ke iran

Jakarta – Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon dilaporkan menggunakan model kecerdasan buatan (AI) Grok buatan xAI, perusahaan milik Elon Musk, dalam operasi peluncuran ribuan misil ke Iran.

Penggunaan sistem AI itu dikonfirmasi langsung oleh Kepala Digital dan Kecerdasan Buatan Pentagon, Cameron Stanley. Dalam dokumen persidangan, Stanley menyebut militer AS memakai sistem tersebut untuk mengidentifikasi target dan menembak lebih dari 2.000 target berbeda di Iran dalam kurun waktu 96 jam.

Dalam sumpah tertulis di persidangan, Stanley menegaskan bahwa pengoperasian sistem AI milik Musk itu merupakan “masalah keamanan yang sangat penting”.

Pengakuan eksplisit pejabat pemerintahan AS tersebut menjadi sorotan tajam, terlebih setelah serangan itu dilaporkan memicu jatuhnya ratusan korban sipil di Iran.

“Chatbot tersebut merupakan salah satu dari tiga produk yang dilengkapi untuk mendukung operasi krusial dalam lingkungan rahasia tingkat tinggi,” tulis Stanley dalam dokumen itu, melansir The Independent, Selasa (16/6).

Dokumen tersebut disebut menjadi pengakuan eksplisit pertama dari pejabat AS bahwa pemerintah menggunakan kecerdasan buatan milik Musk untuk melancarkan serangan bom ke Iran.

Sorotan terhadap penggunaan AI itu juga menguat karena beberapa model AI dilaporkan terlibat dalam serangan AS ke Iran yang menewaskan ratusan warga sipil, termasuk anak-anak.

Dalam dokumen pengadilan itu, Grok disebut sebagai satu dari empat model AI yang saat ini mampu mendukung aplikasi keamanan nasional AS. Grok juga merupakan satu dari tiga produk AI yang dilengkapi untuk mendukung operasi misi kritis yang sangat rahasia.

Secara spesifik, militer mengandalkan “Grok Gov Model”, rangkaian produk yang dirancang khusus untuk bekerja dengan lembaga federal. Pentagon menyatakan pihaknya akan terdampak “sangat parah” jika xAI dilarang diterapkan, disempurnakan, dan ditingkatkan di seluruh lini militer.

Dalam operasinya, target serangan diidentifikasi dengan bantuan Maven Smart System milik Badan Intelijen Geospasial Nasional (NGA). Sistem Maven menggunakan AI untuk memetakan data pada dasbor guna mendukung pengambilan keputusan pejabat militer.

Pentagon menjelaskan, produk AI tersebut tidak membuat target secara eksplisit. Sistem itu bekerja di dalam Maven untuk mengidentifikasi titik-titik potensial bagi intelijen militer.

Kritik keras terhadap penggunaan AI oleh militer AS pun mengiringi serangan yang dipimpin AS itu, setelah dilaporkan menewaskan ratusan warga sipil, termasuk anak-anak.

Penyidik militer AS meyakini pasukan Amerika kemungkinan bertanggung jawab atas serangan terhadap sebuah sekolah anak perempuan di Minab, Iran, yang menewaskan sedikitnya 175 orang, sebagian besar anak-anak.

Para analis dan pegiat HAM menilai insiden itu sebagai peristiwa dengan korban sipil paling mematikan sejak pasukan AS dan Israel memulai serangan ke negara itu pada Februari lalu.

Sejumlah analis luar menilai penargetan berbasis AI oleh Pentagon, ditambah faktor human error yang gagal memeriksa pembaruan peta target, turut berperan dalam pemboman tersebut.

Di sisi lain, dokumen itu juga mengungkap konflik hukum antara Pentagon dan perusahaan AI lainnya, Anthropic. Kerja sama keduanya gagal setelah Anthropic mendapati pemerintah AS tidak memberikan jaminan bahwa Claude, model AI milik mereka, tidak akan digunakan untuk pengawasan domestik atau drone otonom.

Akibat kegagalan kesepakatan itu, Pentagon menetapkan Anthropic sebagai “risiko rantai pasokan terhadap keamanan nasional” yang dapat mengancam kontrak masa depan perusahaan dengan pemerintah.