Berita

BMKG Prediksi Dampak El Nino Bakal Turunkan Kualitas Udara di Jakarta

17
×

BMKG Prediksi Dampak El Nino Bakal Turunkan Kualitas Udara di Jakarta

Sebarkan artikel ini
bmkg-ungkap-penyebab-kualitas-udara-memburuk-saat-el-nino
bmkg ungkap penyebab kualitas udara memburuk saat el nino

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kualitas udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya berpotensi mengalami penurunan. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi musim kemarau serta fenomena El Nino yang akan melanda.

Kendati demikian, BMKG menegaskan bahwa penurunan kualitas udara tersebut bukan disebabkan oleh adanya lonjakan jumlah polutan di atmosfer.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa faktor utama penurunan kualitas udara adalah berkurangnya curah hujan. Padahal, hujan memiliki peran krusial dalam “mencuci” atmosfer dari akumulasi polutan di suatu wilayah.

“Sebenarnya dengan tidak adanya hujan ini, bukan kualitas udaranya polutannya naik, tetapi polutannya tidak tercuci karena curah hujan berkurang,” ujar Ardhasena dalam konferensi pers Perkembangan Musim Kemarau 2026 secara daring, Rabu (10/6).

Ia menuturkan, sumber polutan sebenarnya tetap ada setiap saat akibat beragam aktivitas manusia, mulai dari sektor transportasi, pabrik, hingga pembangkit energi.

“Sehingga absennya hujan ini tidak membantu kita memperbaiki kualitas udara, karena tidak dibantu pencucian atmosfer oleh hujan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ardhasena mengungkapkan bahwa pihaknya memprediksi fenomena El Nino akan segera aktif dan bertahan hingga awal tahun 2027. BMKG mencatat peluang intensitas El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98 persen, sedangkan untuk kategori kuat mencapai 62 persen.

Fenomena El Nino diketahui menyebabkan penyimpangan iklim global dengan pola dan durasi yang bervariasi di tiap wilayah. Khusus untuk wilayah tropis seperti Indonesia, fenomena ini berdampak pada penekanan curah hujan yang membuat kondisi iklim menjadi lebih kering pada periode Juni hingga Januari.

Terkait kondisi suhu, Ardhasena memperkirakan cuaca di wilayah Jakarta akan terasa lebih sumuk atau gerah pada akhir September hingga Oktober mendatang. Periode tersebut bertepatan dengan posisi Matahari yang melintas tepat di atas Pulau Jawa.

“Sebelum bulan September, yaitu di sekitar Juli dan Agustus, udara kering yang timbul akibat curah hujan minim ini juga disertai dengan berkurangnya kelembapan. Itu sebenarnya karakter yang khas dari Pulau Jawa ketika puncak musim kemarau,” katanya.

Setelah melewati periode tersebut, ia menambahkan bahwa temperatur udara diprediksi akan mengalami kenaikan pada sekitar bulan September dan Oktober.