Ecozone

Cermati Rekomendasi Saham Kompas100 Saat IHSG Mengalami Tekanan Pasar

17
×

Cermati Rekomendasi Saham Kompas100 Saat IHSG Mengalami Tekanan Pasar

Sebarkan artikel ini
159b4b46f901e7419491e41d3bd9f2d4.jpg
159b4b46f901e7419491e41d3bd9f2d4.jpg

Jakarta – Indeks Kompas100 mencatatkan koreksi tajam sebesar 32,35 persen secara year to date (ytd) ke level 807,375 hingga 29 Mei 2026. Penurunan ini melampaui tekanan yang dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 29,14 persen pada periode yang sama.

Analis menilai pelemahan tersebut merupakan dampak dari tingginya volatilitas pasar, aksi jual investor asing, hingga sentimen rebalancing indeks MSCI. Saham-saham dengan bobot besar seperti BREN, TPIA, dan CUAN disebut menjadi penekan utama kinerja indeks.

Meski tertekan, para analis melihat momentum ini sebagai peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi pada saham-saham unggulan yang valuasinya kini dianggap jauh lebih murah. Pemulihan diprediksi akan terjadi seiring dengan meredanya sentimen global dan kepastian kebijakan fiskal domestik.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menyatakan bahwa tekanan pada Kompas100 terjadi karena indeks ini merupakan acuan utama investor institusi. Akibatnya, saat terjadi gejolak pasar, saham-saham likuid di dalamnya menjadi target aksi jual pertama.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menambahkan bahwa pasar akan kembali bergairah setelah proses rebalancing MSCI tuntas. Ia optimistis saham-saham berfundamental kuat akan memimpin pemulihan saat investor kembali melirik aset berisiko.

Dalam menghadapi kondisi ini, sektor perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI menjadi pilihan utama karena dianggap sebagai motor penggerak indeks yang paling tangguh. Sektor konsumer seperti INDF, ICBP, KLBF, dan AMRT juga dinilai layak koleksi sebagai instrumen defensif di tengah ketidakpastian ekonomi.

Untuk investor yang mengincar dividen, saham sektor komoditas seperti AADI, PTBA, dan ANTM tetap menjadi opsi menarik. Sementara di sektor infrastruktur digital, saham menara telekomunikasi seperti TOWR dan TBIG dipandang prospektif berkat kontrak jangka panjang yang stabil.

Para ahli menyarankan investor untuk tetap waspada dengan menerapkan strategi buy on weakness atau akumulasi bertahap. Investor diimbau memprioritaskan emiten dengan rasio utang rendah, visibilitas pendapatan tinggi, serta free float di atas 15 persen.

Wafi mematok target harga untuk saham pilihan seperti BBCA di Rp10.500, BMRI Rp5.800, INDF Rp6.500, AADI Rp9.850, dan ANTM Rp3.880 per saham.

Senada, Ekky menyarankan target harga untuk BBCA di Rp7.700, PGAS di kisaran Rp2.250 hingga Rp2.350, CPIN di Rp5.050 hingga Rp5.250, serta TLKM di rentang Rp3.600 hingga Rp3.650 per saham. Pilihan pada ICBP dan KLBF juga ditegaskan kembali sebagai langkah strategis dalam menghadapi gejolak pasar.

602acdb592732a9c9f21500ea214cd88.jpg
Ecozone

Fenesia – NEW YORK. Wall Street mengawali Juni dengan bergerak di dekat level tertinggi sepanjang masa. Optimisme investor terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI), terutama setelah peluncuran chip terbaru Nvidia, mampu meredam kekhawatiran pasar terhadap memanasnya konflik Amerika Serikat-Iran yang kembali menekan harga energi. Pada perdagangan pagi waktu setempat, indeks Dow Jones melemah 0,35% ke 50.855,46. Sementara itu, S&P 500…

13a6ee5f15a09ab652bf71ebc86debc9.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, menilai pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis nasional. Menurutnya, keberadaan DSI berpotensi memperbaiki transparansi ekspor, meningkatkan kualitas pencatatan devisa hasil ekspor, sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap…