Ecozone

Saham Sektor Energi dan Material Dasar Tekan IHSG ke 6.094,94

12
×

Saham Sektor Energi dan Material Dasar Tekan IHSG ke 6.094,94

Sebarkan artikel ini
e8829cd88388d7015265d6a5854ba8bc.jpg
e8829cd88388d7015265d6a5854ba8bc.jpg

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok signifikan sebesar 223,56 poin atau 3,54 persen ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis (21/11). Pelemahan tajam ini dipicu oleh sentimen negatif pelaku pasar terhadap rencana pembentukan BUMN khusus ekspor komoditas.

Sentimen tersebut memicu aksi jual masif, terutama pada saham-saham sektor barang baku dan energi. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga ikut tertekan, turun 14,28 poin atau 2,26 persen ke level 616,40.

Fixed Income and Macro Strategist PT Mega Capital Indonesia, Lionel Priyadi, menilai rencana sentralisasi ekspor komoditas melalui BUMN ekspor telah menciptakan kekhawatiran di kalangan investor domestik maupun asing. Kebijakan ini dianggap berpotensi merugikan kinerja emiten dan pemegang saham.

Pasar bereaksi negatif terhadap rencana penerbitan Peraturan Pemerintah mengenai tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA). Fokus utama investor tertuju pada pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang akan bertindak sebagai eksportir tunggal untuk komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan ferro alloy.

Pemerintah sendiri berargumen bahwa pembentukan BUMN khusus ini bertujuan membenahi praktik underinvoicing ekspor komoditas yang dinilai telah merugikan negara hingga Rp15.400 triliun selama 34 tahun terakhir. PT DSI nantinya akan beroperasi di bawah naungan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.

Sepanjang perdagangan, IHSG konsisten berada di zona merah. Seluruh sebelas indeks sektoral IDX-IC mencatatkan koreksi. Sektor barang baku memimpin pelemahan sebesar 6,96 persen, disusul sektor energi sebesar 6,74 persen, dan sektor barang konsumen non-primer sebesar 5,70 persen.

Data BEI mencatat volume transaksi harian mencapai 35,77 miliar lembar saham dengan nilai turnover Rp18,49 triliun dari 2,14 juta kali transaksi. Secara keseluruhan, sebanyak 663 saham mengalami penurunan, sementara hanya 88 saham yang mampu menguat dan 69 saham stagnan.

Saham-saham dengan pelemahan harga terdalam meliputi BUKK, IRSX, ENRG, POLU, dan RAJA. Sementara itu, beberapa saham yang masih mencatatkan penguatan di tengah tekanan pasar adalah SOTS, BOBA, ENAK, APLI, dan KOBX.

Kinerja bursa domestik ini berbanding terbalik dengan kondisi bursa regional Asia yang bergerak variatif. Indeks Nikkei tercatat menguat 3,10 persen dan Strait Times naik tipis 0,02 persen, sementara indeks Shanghai dan Hang Seng justru mengikuti tren negatif dengan pelemahan masing-masing sebesar 2,04 persen dan 1,03 persen.