Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak variatif pada perdagangan Kamis (21/5/2026) di tengah konsolidasi pasar usai mencermati kebijakan ekonomi pemerintah dan keputusan moneter Bank Indonesia. Indeks diperkirakan berada pada level support 6.200–6.250 dengan resistance di angka 6.400–6.450.
Sentimen pasar saat ini terfokus pada arah kebijakan fiskal pemerintah yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Salah satu poin strategis yang menjadi sorotan adalah rencana pembentukan badan di bawah Danantara yang akan memusatkan ekspor komoditas seperti CPO, batu bara, dan mineral sebagai pengekspor tunggal.
Rencana sentralisasi tata niaga ekspor ini memicu reaksi beragam di lantai bursa, terutama pada saham-saham sektor komoditas. Investor saat ini masih menanti kejelasan lebih lanjut mengenai mekanisme implementasi badan baru tersebut.
Di sektor moneter, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% menjadi perhatian utama. Angka ini melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan kenaikan di level 5%. Kebijakan agresif ini diambil BI untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah tekanan eksternal dan domestik, termasuk fluktuasi harga minyak dunia dan defisit APBN.
Respons pasar terhadap kenaikan suku bunga terlihat pada pergerakan Rupiah yang menguat sebesar 0,29% ke level Rp17.654. Di sisi lain, Presiden juga telah memberikan instruksi kepada bank-bank Himbara untuk menurunkan suku bunga kredit bagi pelaku usaha kecil guna mendorong pertumbuhan ekonomi sektor riil.
Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (20/5/2026), IHSG ditutup melemah 0,82% ke level 6.318,50. Tekanan jual mendominasi pasar saat investor merespons dinamika kebijakan pemerintah dan langkah pengetatan moneter dari Bank Indonesia.
Pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati sektor-sektor yang sensitif terhadap kebijakan pemerintah, terutama perbankan dan emiten komoditas. Sektor yang berorientasi domestik dinilai cenderung lebih stabil dalam menghadapi dinamika kebijakan saat ini.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.







