Ecozone

Inflasi AS Melonjak, Wall Street Tergelincir dari Rekor Tertinggi

51
×

Inflasi AS Melonjak, Wall Street Tergelincir dari Rekor Tertinggi

Sebarkan artikel ini
c30cd5b35644cf85c7da4b51e0884238.jpg
c30cd5b35644cf85c7da4b51e0884238.jpg

Washington – Bursa saham Amerika Serikat terperosok ke zona merah pada perdagangan Selasa malam waktu setempat. Aksi jual melanda pasar setelah data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi memupus harapan investor akan pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 297,98 poin atau 0,60 persen ke level 49.406,49. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 0,57 persen menjadi 7.368,86 dan Nasdaq Composite jatuh 0,92 persen ke posisi 26.038,27, memutus tren positif yang sempat mencetak rekor tertinggi sehari sebelumnya.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan inflasi tahunan (CPI) pada April mencapai 3,8 persen, melampaui prediksi ekonom yang berada di angka 3,7 persen. Lonjakan harga energi dan pangan menjadi pemicu utama kenaikan inflasi yang telah terjadi selama dua bulan berturut-turut ini.

Analis Wells Fargo Investment Institute, Doug Beath, menilai pasar saat ini belum sepenuhnya mengantisipasi dampak ekonomi dari kenaikan harga minyak dan bahan baku global. Menurutnya, tekanan ekonomi yang lebih berat berpotensi mempercepat inflasi global secara signifikan.

Situasi pasar kian tertekan oleh tensi geopolitik di Timur Tengah. Peluang gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan berada dalam kondisi kritis, ditambah dengan penutupan Selat Hormuz yang membuat harga energi terus bertahan di level tinggi.

Ketidakpastian ini mengubah ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan The Fed. Jika sebelumnya investor berharap adanya dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, kini pasar cenderung pesimistis dan memperkirakan suku bunga akan bertahan di level tinggi hingga akhir tahun.

Di lantai bursa, sektor teknologi yang sebelumnya menjadi motor penggerak pasar turut mengalami tekanan. Meski saham Nvidia mampu menguat 1,7 persen, saham Intel justru turun 2 persen, sementara Qualcomm terperosok hingga 6 persen.

Sentimen negatif juga menekan saham Hims & Hers Health yang anjlok 12,3 persen akibat kinerja keuangan yang di bawah ekspektasi. Namun, saham Zebra Technologies berhasil melawan arus dengan lonjakan 15 persen setelah menaikkan proyeksi pertumbuhan penjualan tahunan.

Secara keseluruhan, jumlah saham yang mengalami koreksi jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati para pelaku pasar terhadap prospek ekonomi global yang semakin penuh tantangan akibat tekanan inflasi dan konflik geopolitik.