Jakarta – Indeks dolar Amerika Serikat (DXY) diprediksi akan terus berada dalam tren penguatan akibat kombinasi sentimen safe haven dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury). Kondisi ekonomi global yang tidak menentu membuat mata uang Paman Sam ini tetap menjadi primadona investor.
Research & Development ICDX, Tiffani Safinia, mengungkapkan bahwa pelaku pasar kembali memburu dolar AS dipicu oleh meredupnya optimisme perundingan damai AS-Iran serta masih tingginya tensi geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian tersebut secara langsung memicu kenaikan yield obligasi AS.
Selain faktor geopolitik, pasar saat ini tengah mencermati rilis data inflasi AS atau Consumer Price Index (CPI). Data tersebut diproyeksikan tetap solid, yang kemudian memperkuat ekspektasi bahwa kebijakan suku bunga tinggi akan dipertahankan dalam jangka waktu lebih lama oleh bank sentral AS, The Fed.
Tiffani memproyeksikan indeks dolar AS akan bergerak pada rentang 97,5–99,5 dalam waktu dekat. Sementara untuk semester I-2026, DXY diprediksi berada di kisaran 96–100. Rentang tersebut sangat bergantung pada arah kebijakan moneter The Fed, dinamika inflasi, dan perkembangan geopolitik global.
“Jika inflasi AS tetap sticky dan pemangkasan suku bunga berjalan lebih lambat dari ekspektasi pasar, maka DXY masih berpeluang bertahan di level tinggi,” jelas Tiffani.
Meski dolar AS tengah mendominasi, sejumlah mata uang lain tetap dilirik sebagai aset safe haven. Yen Jepang (JPY) masih menjadi pilihan utama investor saat volatilitas pasar meningkat karena dukungan likuiditas pasar yang besar.
Di sisi lain, franc Swiss (CHF) tetap menarik bagi investor yang mencari stabilitas ekonomi dan sistem keuangan yang solid. Sementara itu, di kawasan Asia, dolar Singapura (SGD) dianggap sebagai instrumen defensif yang potensial berkat fundamental makroekonomi yang stabil serta kredibilitas kebijakan moneter yang kuat.
Dolar AS dinilai masih berpotensi kuat selama data ekonomi AS tetap resilien. Namun, penguatan tersebut diprediksi mulai terbatas apabila pasar mendapatkan sinyal pemangkasan suku bunga pada semester II-2026 atau jika tensi geopolitik global mulai mereda.













