Jakarta – Mayoritas warga Indonesia menyatakan tidak setuju dengan bergabungnya Indonesia ke Board of Peace (BoP). Hal ini terungkap dari survei terbaru.
Survei dilakukan oleh LSI, Indikator Politik Indonesia, dan SMRC pada 12-31 Maret.
Total ada 1.066 responden berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah yang dilibatkan.
Peneliti Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengungkap mayoritas responden tidak setuju atau sangat tidak setuju Indonesia menjadi bagian dari BoP.
Rinciannya, 41,5% tidak setuju dan 9,4% sangat tidak setuju. Totalnya mencapai 50,9%.
Hanya 4,5% yang sangat setuju dan 21,6% yang setuju.
Survei juga menanyakan pendapat responden tentang rencana pengiriman 8.000 pasukan RI ke Gaza sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF).
Hasilnya, 36% tidak setuju dan 8,9% sangat tidak setuju, total 44,9%.
Sementara itu, 28,1% sangat setuju dan 5,7% setuju.
Keanggotaan Indonesia di BoP menuai sorotan, terutama setelah AS-Israel meningkatkan serangan ke Iran.
Desakan agar Indonesia mundur dari BoP menguat setelah tiga prajurit TNI di UNIFIL, Lebanon, gugur akibat serangan Israel.
Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, khawatir Indonesia akan “mubazir” jika berada di bawah BoP yang dipimpin Donald Trump.
Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan keberadaan RI di BoP adalah untuk mendukung kemerdekaan Palestina melalui solusi dua negara.
Prabowo menegaskan siap keluar dari BoP jika dinilai tidak sejalan dengan prinsip Indonesia.
Rencana pengiriman pasukan RI sebagai pasukan ISF saat ini ditangguhkan akibat perang antara AS-Israel dan Iran.
Prabowo juga menegaskan pengiriman pasukan perdamaian Indonesia ke Gaza bukan untuk melucuti senjata Hamas, melainkan untuk melindungi warga sipil.







