Jakarta – Direktur Rumah Politik Indonesia (RPI), Fernando Emas, menegaskan fakta kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, semakin jelas.
Polri dan TNI secara terbuka menyatakan pelaku berasal dari unsur militer aktif (TNI dari Bais).
“Ini bukan asumsi, ini fakta yang sudah disampaikan secara resmi,” tegas Fernando.
Polda Metro Jaya telah mengumumkan dua terduga pelaku berinisial BHC dan MAK, lengkap dengan foto dan identifikasi.
TNI juga mengonfirmasi bahwa pelaku merupakan anggotanya, meski belum membuka identitas secara visual.
TNI menyebutkan empat orang terlibat: Kapten NDP, Letnan Satu SL, Letnan Satu BHW, dan Sersan Dua ES, dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Mereka kini ditangani Puspom TNI.
Fernando menilai ada kejanggalan terkait belum dibukanya identitas dan foto pelaku oleh TNI.
“Kenapa ketika Polri bisa membuka identitas dan foto pelaku, justru TNI belum? Ini yang kemudian memicu spekulasi,” ujarnya.
Ia mensinyalir adanya upaya sistematis untuk membuyarkan fakta.
“Kita patut curiga, jangan-jangan ada pihak-pihak yang sengaja membangun narasi tandingan untuk mengaburkan fakta,” katanya.
Menurutnya, transparansi adalah kunci menjaga kepercayaan publik.
Penyelidikan polisi menunjukkan aksi penyiraman air keras dilakukan terstruktur, melibatkan empat orang, menggunakan dua sepeda motor, dan membuntuti korban sejak keluar dari kantor YLBHI.
CCTV menunjukkan detail mencurigakan, termasuk pelaku yang mengganti pakaian di lokasi kejadian.
Koalisi masyarakat sipil melalui KontraS mendesak Puspom TNI membuka identitas para pelaku secara transparan, termasuk merilis foto, agar publik dapat melakukan verifikasi.
“Transparansi bukan pilihan, tapi kewajiban. Tanpa itu, kebenaran akan terus dipertanyakan,” tutup Fernando.







