Ecozone

Wall Street Dekati Rekor Baru Didorong Reli Saham Sektor AI

11
×

Wall Street Dekati Rekor Baru Didorong Reli Saham Sektor AI

Sebarkan artikel ini
602acdb592732a9c9f21500ea214cd88.jpg
602acdb592732a9c9f21500ea214cd88.jpg

New York – Pasar saham Amerika Serikat, Wall Street, mengawali bulan Juni dengan pergerakan yang fluktuatif di dekat level tertinggi sepanjang masa. Sentimen pasar saat ini terbelah antara euforia kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan kecemasan investor akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Lonjakan harga minyak mentah sekitar 5 persen menjadi katalis negatif utama bagi pasar. Kenaikan harga energi tersebut dipicu oleh kabar terhentinya pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat terkait situasi di Lebanon, yang memicu kekhawatiran baru akan lonjakan inflasi global.

Di tengah situasi tersebut, saham sektor teknologi menjadi penopang utama indeks. Saham Nvidia memimpin penguatan dengan kenaikan 4 persen pasca peluncuran chip terbaru hasil kolaborasi dengan Microsoft. Inovasi ini memungkinkan perangkat komputer pribadi menjalankan fungsi AI secara mandiri, yang turut mengerek saham Microsoft sebesar 2,5 persen.

Meski demikian, dampak positif dari teknologi AI tidak dirasakan merata oleh seluruh pelaku industri semikonduktor. Saham Qualcomm, AMD, dan Intel justru melemah, sementara Micron Technology justru mencatatkan rekor baru dengan menembus level US$1.000 per saham.

Brian Jacobsen, Kepala Strategi Ekonomi Annex Wealth Management, menilai dominasi Nvidia di sektor chip komputer AI mulai menggeser peta persaingan pemain lama. Di sisi lain, produsen memori seperti Micron diuntungkan oleh kebutuhan komponen pendukung prosesor generasi baru.

Kondisi geopolitik yang memanas memaksa pelaku pasar untuk bersikap lebih waspada. Saat ini, sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berada di zona merah, dengan sektor barang konsumsi non-primer mencatatkan performa terburuk setelah turun 2 persen.

Investor kini mengalihkan perhatian pada sejumlah data makroekonomi krusial yang akan dirilis pekan ini, termasuk laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat. Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi kebijakan moneter Federal Reserve, dengan estimasi peluang 70 persen kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun akibat risiko inflasi dari kenaikan harga energi.

Di luar sektor teknologi, aksi korporasi besar turut mewarnai bursa. Saham Taylor Morrison Home Corp melesat 22 persen setelah Berkshire Hathaway menyepakati akuisisi perusahaan tersebut senilai US$6,8 miliar secara tunai.

Secara keseluruhan, pasar masih mencatatkan penguatan di sektor perangkat lunak, seperti ServiceNow dan IBM. Namun, ketidakpastian geopolitik dan bayang-bayang inflasi tetap menjadi tantangan besar yang membayangi reli Wall Street dalam jangka pendek.

159b4b46f901e7419491e41d3bd9f2d4.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Indeks Fenesia100 masih berada dalam tekanan berat di tengah tingginya volatilitas pasar saham. Namun, di balik pelemahan tersebut, sejumlah analis justru melihat peluang akumulasi pada saham-saham unggulan yang dinilai sudah murah dan berpotensi memimpin pemulihan pasar. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan indeks Fenesia100 terkoreksi 32,35% secara year to date (ytd) hingga 29 Mei 2026 ke level 807,375. Penurunan…

13a6ee5f15a09ab652bf71ebc86debc9.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, menilai pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis nasional. Menurutnya, keberadaan DSI berpotensi memperbaiki transparansi ekspor, meningkatkan kualitas pencatatan devisa hasil ekspor, sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap…