Sungai Raya – Aksi pelemparan bom molotov terjadi di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (3/2). Seorang siswa yang diduga sebagai pelaku telah diamankan polisi.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, hanya luka ringan. Imbasnya, sekolah memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Densus 88 mengungkap bahwa siswa tersebut menyiapkan lima gas portabel dan enam bom molotov untuk menjalankan aksinya.

Gas portabel itu dilekatkan dengan petasan paku dan pisau. Benda-benda tersebut dibawa dalam tas bertuliskan nama pelaku kekerasan luar negeri.

“Serta enam buah botol berisi bahan bakar minyak dan sumbu kain (bom molotov). Serta satu bilah pisau,” kata Kombes Mayndra Eka Wardhana.

Berikut fakta-fakta terkait peristiwa ini:

Tekanan Mental

Kapolda Kalbar Irjen Pipit Rismanto mengatakan siswa itu mengalami tekanan psikologis berat akibat masalah keluarga.

“Secara keseharian di sekolah, anak ini berperilaku normal. Namun tekanan mental dari persoalan keluarga diduga menjadi faktor yang berkaitan dengan kejadian ini,” kata Pipit.

Kakek dan ayah siswa tersebut sedang sakit. Hal ini diduga membebani mental pelaku.

Penanganan pelaku difokuskan pada pembinaan dan penelusuran akar masalah.

Korban Bully dan Terpapar Ideologi Kekerasan

Densus 88 menyebut siswa itu terpapar ideologi kekerasan ekstrem. Ia juga tergabung dalam komunitas True Crime Community (TCC).

“Yang bersangkutan tertarik dengan konten-konten kekerasan dan juga tergabung dalam komunitas True Crime Community,” ujar Mayndra.

Pelaku juga menjadi korban perundungan di sekolah.

Ia memiliki niat balas dendam kepada teman yang merundungnya. Pelaku juga terindikasi masalah keluarga.

“Balas dendam kemudian dilampiaskan dengan melakukan aksi kekerasan di sekolahnya,” kata Mayndra.

Terinspirasi Kekerasan Luar Negeri

Siswa itu terinspirasi aksi kekerasan di luar negeri.

Hal itu diketahui dari tulisan nama pelaku kekerasan ekstrem pada tasnya.

“Nama-nama yang tertera adalah pelaku penembakan massal dan sering dijadikan referensi di komunitas ekstrem online,” kata Mayndra.

Beberapa nama yang ditulis adalah Stephen Paddock (penembakan massal Las Vegas 2017) dan Adam Peter Lanza (penembakan Sandy Hook Elementary School 2012).

“Sering dijadikan simbol ekstrem kekerasan nihilistik,” ujarnya.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *