Jakarta – Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan Infranexia cenderung akan memilih bermitra dengan mitra strategis ketimbang melaksanakan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Menurut dia, langkah itu dinilai lebih tepat untuk membuat entitas baru tersebut tumbuh lebih cepat.
“Jadi kalau IPO mungkin nanti agak lebih belakangan, tapi ini yang sedang kami pertimbangkan adalah invite strategic partner yang tadi bisa membawa banyak perspektif dari fiber bisnis, sehingga Infranexia ini bisa nanti sebesar Telkomsel, yang sekarang merupakan majority contributor terhadap Telkom,” ujar Dian dalam wawancara bersama CNN Business, Kamis (18/6).
InfraNexia merupakan anak usaha Telkom yang bergerak di bidang pengelolaan infrastruktur telekomunikasi, khususnya sebagai penyedia jaringan serat optik. Perusahaan ini dibentuk untuk mengonsolidasikan dan mengoptimalkan aset infrastruktur digital nasional agar penetrasi internet lebih merata dan efisien.
Dian menilai kemitraan dengan partner strategis tidak hanya berkaitan dengan suntikan dana, tetapi juga teknologi dan tata kelola atau governance yang dapat mempercepat pertumbuhan Infranexia.
Menurut dia, bisnis fiber yang kini dikelola entitas tersebut memiliki prospek cerah seiring terus meningkatnya kebutuhan konektivitas dan bandwidth.
Kebutuhan itu didorong oleh perkembangan sejumlah teknologi baru, mulai dari edge computing hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang memerlukan kapasitas besar.
“Kebutuhan mereka itu sebenarnya bukan cuma kapasitasnya saja, tapi bagaimana konektivitas tersebut juga dilengkapi dengan security yang bagus, dengan performance yang bagus, dengan kehandalan yang tinggi,” tuturnya.
Ia mengklaim Telkom adalah “jagonya” di bidang-bidang tersebut. Selain konektivitas berbasis fiber, Dian juga menyinggung bisnis data center atau pusat data yang tengah menjadi sorotan.
Menurut dia, permintaan terhadap data center yang diprediksi lima tahun lalu kini sudah meningkat berkali-kali lipat.
“Kita lihat sekarang itu jauh lebih tinggi dari apa yang kita rencanakan dan kita perkirakan beberapa tahun lalu. Dan salah satu yang membuat demand itu tinggi adalah AI,” katanya.
Karena itu, Telkom juga tidak ingin tertinggal. Dian menyebut NeutraDC saat ini telah memiliki total lebih dari 35 data center, dengan fasilitas yang tidak hanya berada di Indonesia, tetapi juga di Singapura.
Seperti bisnis fiber, bisnis data center juga direncanakan untuk menggandeng mitra strategis dari pemain global. Dian mengatakan mitra tersebut diharapkan tidak hanya membawa investasi dan teknologi, tetapi juga tenants atau pemakai yang merupakan hyperscalers.
Di sisi lain, ia mengakui bisnis data center membutuhkan investasi besar dengan masa balik modal yang panjang. Tantangan lainnya adalah kebutuhan energi atau listrik dalam jumlah besar agar fasilitas dapat terus beroperasi.
Kebutuhan energi yang besar itu berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan. Karena itu, perusahaan memikirkan agar energi yang digunakan berasal dari sumber yang renewable dan lebih green.
Lebih lanjut, Dian menjelaskan Telkom sedang bertransformasi menuju model strategic holding yang akan menciptakan pembagian peran lebih tegas antara holding dan operating company atau anak usaha. Saat ini, kata dia, Telkom masih menjalankan model hybrid, di mana holding ikut menjalankan operasional bisnis bersama anak perusahaannya.
“Nanti setelah jadi strategic holding, holding-nya itu murni strategic holding, tidak melakukan business operation. Semua business operation itu hanya ada di anak perusahaan,” jelas Dian.
Dalam skema baru itu, peran holding akan dipersempit untuk memastikan tercapainya penciptaan nilai serta mengawasi kinerja masing-masing anak usaha secara lebih terstruktur, mulai dari indikator kinerja utama atau KPI, performa bisnis, manajemen investasi, hingga koridor bisnis setiap entitas.
Dian mencontohkan pembagian peran tersebut pada sejumlah anak usaha Telkom. Telkomsel, sebagai unit bisnis business-to-customer atau B2C, bertugas menciptakan nilai dari layanan langsung ke konsumen.
MitraTel berfokus memperluas bisnis menara telekomunikasi, sementara InfraNexia diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi TelkomGroup melalui bisnis infrastruktur fiber.
Tujuan akhirnya, kata Dian, agar investor menilai TelkomGroup berdasarkan keseluruhan aset yang dimiliki masing-masing anak usaha, bukan hanya dari kinerja bisnis B2C seperti yang terjadi saat ini.
“Kalau sekarang kan masih undervalue. Telkom masih sering dilihat berdasarkan bisnis B2C-nya saja, padahal Telkom masih punya bisnis-bisnis lain,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah lini bisnis Telkom yang menurutnya belum tercermin maksimal dalam valuasi perusahaan saat ini, antara lain bisnis infrastruktur, enterprise atau ICT business, hingga bisnis internasional.







