Jakarta – Migrasi rumah tangga ke penggunaan kompor induksi dinilai menjadi langkah strategis untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Kebijakan ini diharapkan mampu meringankan beban anggaran negara yang selama ini tertekan oleh tingginya kebutuhan impor energi.
Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, mengungkapkan bahwa konsumsi LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8 juta metrik ton per tahun. Sebagian besar kebutuhan tersebut masih harus dipenuhi melalui impor, yang berdampak langsung pada neraca perdagangan.
“Ini adalah beban besar bagi neraca perdagangan kita,” ujar Sugeng di Gedung DPR, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Menurut Sugeng, penggunaan kompor induksi jauh lebih efisien dibandingkan kompor gas konvensional. Peralihan ke energi listrik di sektor rumah tangga diproyeksikan mampu menghemat biaya operasional hingga 30 persen dibandingkan penggunaan energi fosil bersubsidi.
Selain efisiensi biaya, langkah ini juga dinilai dapat mengurangi beban subsidi energi pemerintah. Sugeng memastikan bahwa sistem kelistrikan nasional saat ini dalam kondisi kuat dan mampu mendukung migrasi tersebut dengan pasokan energi primer yang terjaga.
“Kita punya pasokan listrik yang andal dari kekuatan domestik. Dengan mengubah energi berbasis impor menjadi energi berbasis listrik, kita tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga memperkuat kedaulatan energi nasional tepat dari dapur masyarakat,” pungkasnya.













