News

Sudaryono Tegaskan Kehadiran di UGM untuk Dialog Secara Demokratis

11
×

Sudaryono Tegaskan Kehadiran di UGM untuk Dialog Secara Demokratis

Sebarkan artikel ini
244f93be907dfc8161b581ca91ad8579.jpg
244f93be907dfc8161b581ca91ad8579.jpg

Yogyakarta – Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memberikan klarifikasi terkait insiden kericuhan yang mewarnai agenda diskusi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Selasa (16/6). Acara yang turut dihadiri oleh Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko tersebut terpaksa dihentikan setelah sekelompok mahasiswa melakukan aksi protes keras di lokasi kegiatan.

Sudaryono menegaskan bahwa kehadiran dirinya bersama para pejabat lain di lingkungan kampus UGM bertujuan untuk membangun dialog terbuka dengan mahasiswa. Menurutnya, kegiatan tersebut telah direncanakan jauh hari dan mendapatkan izin resmi dari pihak universitas. Ia menambahkan bahwa diskusi semacam ini bukanlah kali pertama diselenggarakan sebagai bentuk komunikasi antara pemerintah dan akademisi.

Dalam keterangannya, Sudaryono menyampaikan bahwa ruang dialog memang sengaja dibuka seluas-luasnya. Ia mempersilakan mahasiswa untuk menyampaikan kritik maupun pertanyaan terkait kebijakan pemerintah tanpa batasan. Ia menekankan bahwa pemerintah hadir di forum tersebut untuk menjalankan proses demokrasi yang sehat melalui pertukaran gagasan.

Diskusi sempat berjalan kondusif selama kurang lebih 30 hingga 40 menit. Namun, situasi berubah ketika sebagian peserta aksi menuntut agar forum segera dihentikan. Sudaryono menyayangkan tindakan tersebut karena ia menilai sebagian besar mahasiswa lainnya justru antusias untuk mengikuti jalannya diskusi.

Meski suasana di lokasi mulai memanas, Sudaryono menyatakan sempat memilih untuk tetap bertahan di lokasi bersama Nusron Wahid. Ia meyakini bahwa perbedaan pandangan seharusnya diselesaikan melalui jalur dialog. Kendati demikian, situasi di lapangan menjadi semakin tidak terkendali setelah terjadi aksi pelemparan air serta dugaan tindakan fisik yang mengarah kepadanya.

Terkait beredarnya narasi bahwa dirinya meninggalkan lokasi karena menghindari mahasiswa, Sudaryono membantah dengan tegas. Ia menjelaskan bahwa pihak keamanan menyarankan untuk keluar demi alasan keselamatan. Bahkan, saat mobil yang ditumpanginya sempat dicegat oleh massa, ia mengaku sempat keluar kembali dari kendaraan dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan upaya berdialog.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah mahasiswa sempat menyampaikan kritik terkait isu agraria dan dugaan penggusuran. Menanggapi hal tersebut, Sudaryono menyatakan kesiapannya untuk meninjau langsung persoalan di lapangan. Ia bahkan mengaku siap menggunakan dana pribadi untuk memastikan kebenaran informasi terkait permasalahan agraria yang dikeluhkan mahasiswa.

Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah tidak anti terhadap kritik. Baginya, kritik merupakan bagian integral dari praktik demokrasi, selama disampaikan dengan tetap menjunjung tinggi rasa hormat. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang hadir dengan niat baik untuk berdiskusi, namun tidak dapat mengikuti forum hingga selesai akibat kericuhan yang terjadi.

Pemerintah berkomitmen untuk terus membuka ruang komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat. Sudaryono menyatakan kesediaannya jika diundang kembali untuk berdiskusi, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Ia kembali menegaskan bahwa semangat untuk berdialog didasari oleh rasa cinta kepada negara sebagai bukti keterbukaan pemerintah terhadap masukan masyarakat.

Sebelumnya, acara diskusi di UGM ini sempat berlangsung lancar sebelum akhirnya terhenti. Ketegangan memuncak saat Budiman Sudjatmiko menyinggung perihal mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Sejumlah mahasiswa kemudian naik ke atas panggung sambil membentangkan spanduk bertuliskan protes serta melontarkan teriakan bernada kritis terhadap rezim. Kondisi di luar gedung pun sempat memanas saat mahasiswa mengadang mobil para pejabat yang hendak meninggalkan area GIK.