Jakarta – Harga akomodasi dan transportasi melonjak saat liburan. Strategi keuangan yang cermat bisa jadi solusi.
Perencanaan sejak awal tahun adalah kunci penghematan.
Data menunjukkan harga tiket pesawat ke destinasi populer bisa naik 30-40 persen jika dipesan mendekati musim puncak.
Direktur International Wealth and Premier Banking HSBC Indonesia, Lanny Hendra, menekankan pentingnya menjaga likuiditas dan memaksimalkan pengalaman liburan.
Menurutnya, aktivitas liburan jangan sampai mengganggu tujuan keuangan jangka panjang.
Lanny juga menyoroti pentingnya menjaga jaring pengaman finansial. Anggaran liburan sebaiknya tidak mengambil porsi dana cadangan.
“Pisahkan dana darurat. Jaga dana darurat tetap utuh dan pastikan sumber pendanaan liburan tidak mengganggu alokasi rutin investasi,” ujarnya.
Lanny menyarankan masyarakat menetapkan bujet liburan dalam setahun penuh berdasarkan destinasi dan mata uang. Kemudian, membaginya ke dalam pos liburan utama dan liburan singkat.
“Pesan tiket lebih awal. Amankan kursi penerbangan jarak jauh lebih awal (golden hour) untuk menghemat harga secara signifikan,” tambahnya.
Pemanfaatan fasilitas cicilan nol persen juga bisa menjadi solusi pengelolaan arus kas agar pembayaran lebih ringan.
Laporan internal HSBC menunjukkan 43 persen masyarakat kelas menengah atas di Indonesia kini menempatkan liburan sebagai salah satu tujuan keuangan utama.
HSBC ANA Travel Fair menjadi bagian dari komitmen HSBC Indonesia dalam pilar gaya hidup yang melengkapi pilar pengelolaan kekayaan dan pilar internasional.
Antusiasme pasar terlihat meningkat di awal tahun. Gelaran HSBC ANA Travel Fair 2026 mencatat kenaikan nilai transaksi sesi pre-sale sebesar 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ajang ini dimanfaatkan masyarakat untuk memperoleh harga kompetitif, seperti tiket ke Jepang mulai Rp 3,9 juta dan Amerika Serikat mulai Rp 8,6 juta.
Chief Representative ANA Jakarta, Tetsuma Fujii, memastikan kesiapan layanan di tengah lonjakan permintaan.
“Strategi kami pada 2026 berfokus pada pemenuhan ekspektasi konsumen Indonesia dengan mengacu pada Japanese Quality,” ujar Tetsuma.







