Semarang – Banjir melanda Kota Semarang dan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menyebabkan ribuan warga terdampak dan aktivitas lumpuh. Hujan deras sejak Rabu (22/10) menjadi penyebab utama bencana ini.
BPBD Kota Semarang mencatat 38.180 jiwa terdampak banjir. Sementara itu, di Kabupaten Grobogan, 2.263 rumah terendam.
Kawasan terparah di Semarang meliputi Bangetayu Kulon, Banjardowo, Gebangsari, dan Genuksari. Ketinggian air bervariasi antara 20-60 sentimeter.
Jalan Nasional Kaligawe juga lumpuh akibat genangan air setinggi setengah meter. Kemacetan parah tak terhindarkan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan banjir disebabkan sistem drainase yang buruk dan luapan Sungai Tenggang.
“Genangan terjadi karena sistem drainase tidak mampu menampung debit air, ditambah luapan Sungai Tenggang,” ujarnya, Sabtu (25/10).
Area depan RSI Sultan Agung bahkan terendam hingga 80 sentimeter. Evakuasi pasien sempat dilakukan.
Hingga Jumat (24/10) sore, belum ada laporan warga yang mengungsi.
Pemerintah Kota Semarang dan BPBD terus berupaya menyedot air. Dua dari enam pompa di Rumah Pompa Tenggang dioperasikan, sementara sisanya diperbaiki.
Bantuan pompa tambahan juga datang dari BPBD Jawa Tengah dan Pusdataru.
BMKG Ahmad Yani Semarang memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih akan terjadi hingga awal November. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby ekuatorial menjadi penyebabnya.
Di Kabupaten Grobogan, banjir merendam 28 desa di 14 kecamatan. Ketinggian air mencapai lutut hingga pinggang orang dewasa.
Selain itu, 285 hektare lahan padi ikut terendam.
Tanggul Kali Tuntang di Kecamatan Gubug jebol sepanjang 10 meter. Hal ini sempat mengganggu perjalanan kereta api lintas Jakarta-Surabaya.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menginstruksikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengalihkan curah hujan.
Pesawat Cessna Caravan PK-SNM telah tiba di Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jumat malam (24/10).
Sebanyak 10 ton natrium klorida (NaCl) dan 2 ton kalsium oksida (CaO) disiapkan untuk penyemaian awan.
“Tujuannya bukan menghentikan hujan, tapi mengatur agar hujan tidak turun di wilayah yang sudah tergenang,” kata Abdul.
OMC melibatkan BNPB, BMKG, BRIN, TNI AU, dan BPBD Jawa Tengah. Operasi ini dijadwalkan berlangsung tiga hingga lima hari, tergantung kondisi cuaca.
BNPB mengingatkan bahwa modifikasi cuaca bukan solusi permanen. Langkah ini bersifat sementara sambil menunggu perbaikan sistem drainase, penguatan tanggul, dan normalisasi sungai.














