Berita

Sanae Takaichi: Kandidat Kuat PM Wanita Jepang, Tantang Dominasi Pria

126
×

Sanae Takaichi: Kandidat Kuat PM Wanita Jepang, Tantang Dominasi Pria

Sebarkan artikel ini
86671126e903f20cd1f043e908f6079f.jpg
86671126e903f20cd1f043e908f6079f.jpg

Fenesia – Sanae Takaichi (64) berhasil meraih ambisi lamanya dengan terpilih sebagai pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP), partai berkuasa di Jepang, pada ulang tahun ke-70 LDP, Sabtu (4/10/2025). Kemenangan ini menempatkannya sebagai calon perdana menteri perempuan pertama di Jepang setelah dua kali gagal sebelumnya.

Figur Takaichi dikenal cukup kontroversial. Ia menolak revisi undang-undang agar perempuan tidak perlu mengikuti nama keluarga pasangan dan mendorong perempuan untuk menjadi istri serta ibu di tengah menurunnya angka pernikahan dan kelahiran. Perspektif ekonominya juga mengikuti mazhab mendiang Shinzo Abe, ditambah pandangannya yang mendorong rakyat Jepang untuk “bekerja bagai kuda”.

Perjalanan politik Sanae Takaichi dimulai dari latar belakang yang jauh dari panggung politik. Lahir pada 1961 di Prefektur Nara, ia dikenal sebagai pemain drum heavy metal yang andal dan pernah menjadi pembawa acara televisi. Inspirasi politiknya tumbuh pada 1980-an di tengah friksi perdagangan AS-Jepang, mendorongnya untuk membuat Jepang dihormati dan dipahami secara global.

Setelah kalah dalam pemilihan parlemen pertamanya pada 1992, ia berhasil memperoleh kursi setahun kemudian dan bergabung dengan LDP pada 1996. Sejak saat itu, ia terpilih sebagai anggota parlemen hingga 10 kali dan membangun reputasi sebagai sosok konservatif paling vokal di partainya. Ia juga pernah menjabat sebagai menteri keamanan ekonomi, industri dan perdagangan, serta komunikasi dan urusan dalam negeri.

Pemilihan Takaichi dari sayap kanan LDP diharapkan dapat menarik kembali pemilih konservatif yang kecewa terhadap kondisi ekonomi dan beralih ke partai ekstrem kanan Sanseito. LDP sendiri mengakui telah menerima kritik keras dari pendukung inti dan perlu berubah demi masa depan Jepang. Parlemen diperkirakan akan mengukuhkan Takaichi sebagai perdana menteri pada 15 Oktober.

Reaksi pasar terhadap kemenangannya bervariasi. Saham di sektor real estat, teknologi, dan industri berat merangkak naik, namun nilai Yen justru mencapai rekor terendah terhadap Euro dan merosot 1,7 persen terhadap dolar AS. Ekonom Jepang, Jesper Koll, menyebut lonjakan pasar adalah reaksi spontan, tetapi usulan kebijakan stimulus ekonomi Takaichi dikhawatirkan dapat semakin melemahkan Yen akibat utang Jepang yang membengkak.

Jika resmi dilantik, Sanae Takaichi harus menavigasi hubungan AS-Jepang berkaitan kesepakatan tarif dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Ia juga wajib menghadapi ekonomi yang lesu dan rumah tangga yang berjuang melawan biaya hidup tinggi di tengah pertumbuhan upah yang lambat. Negosiasi dengan Trump untuk menurunkan dolar dan menaikkan yen akan menjadi prioritas utama.