Ecozone

Rupiah Tertekan, Bunga Deposito Valas 4% Himbara Batal?

138
×

Rupiah Tertekan, Bunga Deposito Valas 4% Himbara Batal?

Sebarkan artikel ini
e0ef111d0e2af2c2fbaba58bae008fbf.jpg
e0ef111d0e2af2c2fbaba58bae008fbf.jpg

Jakarta – Kebijakan kenaikan suku bunga deposito valuta asing (valas) dolar AS menjadi 4% oleh bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) memicu polemik. Langkah ini tidak hanya menimbulkan pertanyaan terkait likuiditas, tetapi juga mengenai pihak yang mengarahkan kebijakan tersebut.

Pada Rabu, 24 September 2025, bank-bank Himbara seperti BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN, serta BSI secara serentak mengumumkan peningkatan suku bunga deposito valas dalam bentuk dolar AS menjadi 4,00% per tahun. Kenaikan ini berlaku untuk semua tenor dan tiering, dari sebelumnya yang berkisar antara 0,20% hingga 2,5% per tahun, dan rencananya akan efektif mulai 5 November 2025.

Suku bunga baru ini berada di atas tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk simpanan valas yang saat ini sebesar 2,25% dan akan menjadi 2,00% mulai 1 Oktober 2025 hingga 31 Januari 2026.

Isu beredar menyebutkan bahwa kenaikan bunga deposito valas dolar AS ini bukan semata-mata keputusan bisnis bank pelat merah, melainkan arahan langsung dari pemerintah. Namun, hal ini dibantah keras oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Langkah ini disebut-sebut membawa konsekuensi ke pasar keuangan, baik yang sudah terlihat maupun yang berpotensi muncul, seperti tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Menurut data Bloomberg pada Minggu, 28 September 2025, rupiah mencapai Rp16.738 per dolar Amerika Serikat (AS).

Informasi yang diterima menyebutkan bahwa arahan penyesuaian bunga deposito datang melalui Danantara. Instruksi ini muncul setelah perbandingan dengan bank-bank luar negeri yang menawarkan bunga valas lebih tinggi.

Secara praktik, kebutuhan valas di Himbara terbilang relatif kecil. Sebagian besar penyaluran kredit menggunakan rupiah, sementara porsi pinjaman dalam dolar hanya sekitar 10%, yang biasanya dialokasikan untuk proyek infrastruktur dengan kebutuhan impor atau pembiayaan perdagangan (trade finance).

Hal ini juga tercermin dari data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Per Juni 2025, nominal simpanan valas bank Persero tercatat Rp718,45 triliun, atau hanya 16,99% dibandingkan dengan total himpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai Rp4.228,32 triliun. Penyaluran kredit valas senilai Rp586,53 triliun atau 15,79% dibandingkan total penyaluran kredit Bank BUMN kepada pihak ketiga yang sebesar Rp3.714,35 triliun.

Dengan demikian, kenaikan bunga deposito valas berpotensi menekan marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan karena biaya dana dalam dolar cenderung lebih mahal.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan tidak pernah memberikan arahan kepada Danantara atau bank-bank BUMN untuk menaikkan bunga deposito valas AS tersebut. Ia juga telah mengonfirmasi ke Bank Indonesia dan Danantara, yang menurutnya tidak ada memberi arahan kepada bank.

“Memang pernah ada diskusi kan waktu itu saya bilang di sana bahwa akan ada insentif ke pemegang valas, supaya pindahin valas dari Singapura ke Indonesia kira-kira gitu. Cuma itu masih belum selesai, masih ada risiko yang mesti dihitung,” ungkap Purbaya di Kantor Kemenkeu di Jakarta, Jumat, 26 September 2025.

Presiden Prabowo Subianto bahkan memerintahkan timnya untuk menghitung risiko dari kebijakan tersebut terlebih dahulu dan memberikan waktu dua pekan untuk perhitungan. Purbaya menjelaskan hasil laporan tim tersebut baru akan masuk pada Jumat, 3 Oktober 2025. Oleh sebab itu, ia mengaku bingung dengan keputusan bank-bank BUMN yang menaikkan bunga valas sebelum adanya hasil perhitungan risiko tim arahan Prabowo.

Mengenai pelemahan kurs rupiah, Purbaya menyatakan hal itu belakangan disebabkan sentimen negatif akibat kebijakan pemberian bunga jumbo 4% per tahun bagi deposito berdenominasi dolar AS oleh bank-bank BUMN.

Ia kembali menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan arahan pemerintah. Purbaya berharap klarifikasi ini dapat membuat pasar kembali membaik. “Dengan konferensi pers yang sekarang menyatakan bahwa enggak ada kebijakan dari Kementerian Keuangan yang 4%, saya pikir akan berkurang dengan cepat [sentimen negatif] untuk nilai tukar rupiah. Di samping itu BI [Bank Indonesia] juga sesuai dengan wewenangnya, menjaga nilai tukar dengan agresif, dengan sungguh-sungguh, sesuai dengan peran mereka,” jelasnya.

Purbaya meyakini perkembangan rupiah tersebut bersifat sementara. Ia optimistis investor akan melihat bahwa berbagai kebijakan Kementerian Keuangan yang dikeluarkan akhir-akhir ini akan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. “Mungkin pertengahan minggu depan [rupiah] juga sudah balik,” ujar Purbaya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa usai menghadiri rapat dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jumat (19/9/2025).

Sementara itu, rilis pers yang memuat pernyataan Direktur Utama bank-bank Himbara terkait kebijakan bunga deposito valas juga menghilang. Berdasarkan pantauan pada Minggu, 28 September 2025, yang tersisa hanya pengumuman umum terkait perubahan suku bunga deposito valas, tanpa disertai pernyataan dari para Direktur Utama.

Tangkapan layar pengumuman kenaikan suku bunga deposito valas Bank Mandiri.

Mengutip pengumuman tersebut, perubahan suku bunga deposito yang akan berlaku efektif mulai 5 November 2025 menetapkan suku bunga deposito dolar AS seragam sebesar 4% di seluruh tiering nominal dan tenor. Baik untuk simpanan di bawah US$100.000 maupun di atas US$10 juta, bunga yang ditawarkan tetap sama, yakni 4% untuk jangka waktu 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, hingga 12 bulan.

Rencana pemasangan bunga deposito valas 4% ini bergulir di tengah langkah pemerintah menyiapkan insentif agar simpanan dolar milik warga Indonesia di luar negeri bisa kembali masuk ke dalam negeri. Purbaya sebelumnya mengungkapkan skema itu sedang dimatangkan.

“Bagaimana menarik uang-uang dolar yang orang suka taruh di luar balik ke sini. Tapi masih belum matang, masih kita matangkan lagi. Tapi kalau saya lihat rencananya cukup bagus sekali, jadi kemungkinan bisa dijalankan dalam waktu mungkin satu bulan ke depan, itu utamanya,” jelas Purbaya.

Mantan bos LPS itu menekankan, insentif akan ditempuh dengan mekanisme pasar, bukan paksaan. Menurutnya, pemerintah ingin membuat investor lebih nyaman menaruh dananya di Indonesia, ketimbang di luar negeri. “Uang-uangnya utamanya ke beberapa negara di kawasan sini. Jadi kita akan menjaga itu dengan memberikan insentif yang menarik, sehingga mereka nggak usah capek-capek kirim dolarnya ke luar, itu utamanya,” kata Purbaya.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Hery Gunardi dalam rilis sebelumnya menyampaikan langkah BRI menaikkan suku bunga deposito valas didorong oleh kebutuhan investor untuk melakukan diversifikasi portofolio. Menurutnya, bunga simpanan yang lebih tinggi memberi alternatif bagi investor domestik maupun asing yang menempatkan dananya di Indonesia.

“BRI membuka peluang bagi investor untuk memperoleh imbal hasil optimal,” ujar Hery. Ia menambahkan, kebijakan ini juga memungkinkan nasabah mengakses stabilitas sistem keuangan dalam negeri serta bagian dari strategi memperluas basis dana dalam denominasi mata uang asing untuk memperkuat likuiditas perseroan di tengah gejolak pasar global.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menyampaikan, dalam konteks domestik, suku bunga deposito dolar 4% cenderung berada di atas rata-rata bunga simpanan rupiah yang sudah turun ke sekitar 3,07% pada Agustus 2025. “Dalam beberapa bulan terakhir, biaya dana rupiah memang menurun mengikuti pelonggaran kebijakan moneter, sehingga menawarkan 4% untuk simpanan dolar jelas agresif untuk menarik dana valas,” kata Josua.

Josua menyebut terdapat sederet dampak positif dengan meningkatnya suku bunga deposito valuta asing dalam denominasi dolar AS. Pertama, bertambahnya pasokan dolar di sistem perbankan domestik, karena dengan imbal hasil 4%, eksportir dan korporasi berpotensi lebih memilih menyimpan dolar di bank dalam negeri. Kedua, dapat memperkuat bantalan likuiditas sistem keuangan. “Kebijakan 4% pada deposito dolar melengkapi bauran kebijakan yang sedang ditempuh untuk menjaga stabilitas dan mendukung pembiayaan,” ujarnya.

Pegawai melayani nasabah melakukan penukaran mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Rabu (4/6/2025).

Kendati begitu, kebijakan ini juga menimbulkan risiko. Josua mengungkap, selisih bunga yang kini berpihak pada dolar bisa mendorong sebagian nasabah memindahkan simpanan rupiah ke dolar. Selain itu, biaya dana valas bank otomatis meningkat. Ia mengatakan, marjin perbankan tahun ini cenderung ketat, antara lain karena kenaikan biaya overhead dan upaya memperbaiki laba di tengah penurunan hasil surat berharga.

“Kenaikan harga dana dolar berisiko menekan marjin lebih jauh jika suku bunga kredit valas tidak bisa disesuaikan secepat kenaikan bunga simpanan, terutama untuk debitur korporasi yang sensitif pada biaya pendanaan,” tuturnya. Lebih lanjut, Josua menyebut bahwa dari sudut persepsi, pasar bisa membaca langkah ini sebagai sinyal bahwa tekanan pada rupiah cukup nyata. Risiko lainnya yakni biaya pembiayaan dolar bagi pelaku usaha berpeluang naik atau setidaknya tidak turun secepat yang diharapkan.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual menjelaskan risiko dari langkah Himbara menaikkan bunga deposit valas itu yakni semakin meningkatkan konversi lokal simpanan denominasi rupiah ke dolar. “Risikonya malah bisa meng-intensify konversi lokal simpanannya ke dolar, instead of tahan foreign. Apalagi suku bunga penjaminan rupiah hanya 3,75%, di bawah suku bunga dolar yang ditawarkan,” jelas David.

David pun mengakui kenaikan suku bunga valas bisa memengaruhi efektivitas kebijakan Bank Indonesia (BI), yang selama ini kian akomodatif dalam mendorong transmisi penurunan suku bunga acuan ke perbankan. Harapannya, suku bunga acuan yang turun bisa turut menurunkan suku bunga kredit sehingga penyaluran pembiayaan ke sektor riil bisa lebih masif.

2b593745ae9b9b8f75572f9d68fe86c6.jpg
Ecozone

Fenesia – Jakarta. Gejolak di pasar saham Indonesia belum terhenti hingga pekan ketiga Mei 2026. Meski demikian, investor kakap memanfaatkan momentum ini untuk belanja saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Kamis (21/5/2026), investor senior Lo Kheng Hong tercatat mulai masuk ke saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) sekaligus menambah kepemilikan di PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL)….

a1416c131a7b1b0db9ff437599c32139.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya bangkit pada penutupan perdagangan akhir pekan ini setelah tertekan selama delapan hari berturut-turut. Pada Jumat (22/5/2026), IHSG ditutup menguat 1,10% atau naik 67,10 poin ke level 6.162,04. Sepanjang perdagangan, indeks sempat bergerak di rentang 5.966 hingga 6.171. Meski mengalami penguatan harian, kinerja IHSG dalam sepekan masih berada di zona negatif dengan pelemahan…