Ecozone

Rupiah Diproyeksi Melemah Tertekan Lonjakan Harga Minyak Dunia

57
×

Rupiah Diproyeksi Melemah Tertekan Lonjakan Harga Minyak Dunia

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di pasar keuangan
Nilai tukar rupiah diproyeksikan melemah akibat lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik.

Jakarta – Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (23/7/2026) akibat lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dilansir dari Bloomberg, mata uang Garuda sempat mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,02% ke level Rp 17.914 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi hari ini.

Meskipun sempat menguat, pergerakan rupiah diproyeksikan akan cenderung melemah seiring dengan sentimen eksternal yang menekan pasar keuangan negara berkembang.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyatakan bahwa kenaikan harga minyak global menjadi faktor utama yang membebani nilai tukar domestik saat ini.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timur Tengah,” kata Lukman.

Kendati demikian, Lukman memprediksi bahwa pelemahan mata uang tersebut akan berlangsung terbatas karena adanya perbaikan pada sentimen domestik.

“Pelemahan akan terbatas seiring mulai membaiknya sentimen domestik akhir-akhir ini,” ujar Lukman.

Berdasarkan estimasi Doo Financial, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp 17.850 hingga Rp 18.000 per dolar AS sepanjang hari ini.

Sementara itu, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memproyeksikan potensi depresiasi rupiah hingga menyentuh level Rp 17.920 per dolar AS.

Fikri menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik meningkatkan permintaan investor terhadap aset aman atau safe haven yang cenderung menekan mata uang berisiko.

Selain sentimen global, pelaku pasar juga mencermati kebijakan Bank Indonesia yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada level 5,75%.

Tekanan tambahan bagi rupiah juga datang dari aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing di pasar saham Indonesia yang mencapai angka Rp 920 miliar.

Di sisi lain, masuknya dana Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke sistem keuangan domestik diyakini dapat menjadi penopang untuk meredam tekanan eksternal tersebut.

Sebelumnya, pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah tercatat berada di posisi Rp 17.917 per dolar AS setelah mengalami pelemahan sebesar 0,16% dari hari sebelumnya.

Stabilitas nilai tukar rupiah ke depan akan sangat bergantung pada dinamika harga komoditas energi serta aliran modal asing yang masuk ke dalam negeri.