Ecozone

Risalah The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga, Simak Prospek Valas

10
×

Risalah The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga, Simak Prospek Valas

Sebarkan artikel ini
42f1de8356f901e44c0d4e08dc0b981b.jpg
42f1de8356f901e44c0d4e08dc0b981b.jpg

Jakarta – Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) masih membayangi pasar valuta asing global setelah risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) periode 28-29 April mengisyaratkan kebijakan moneter yang tetap ketat. Pejabat The Fed menegaskan bahwa pengetatan lanjutan menjadi opsi utama apabila inflasi tetap bertahan di atas target 2%.

Sentimen hawkish The Fed tersebut memicu permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven di tengah memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah. Ketidakpastian negosiasi antara AS dan Iran, di mana Presiden Donald Trump membuka peluang serangan militer jika kesepakatan menemui jalan buntu, turut memperkokoh posisi greenback terhadap mata uang utama lainnya.

Research and Development ICDX, Girta Putra Yoga, menyatakan bahwa kondisi ekonomi AS yang relatif lebih tangguh dibanding negara maju lain memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama. Di sisi lain, pelemahan sejumlah mata uang dipengaruhi oleh faktor domestik yang kurang menguntungkan.

Pasangan AUD/USD misalnya, tertekan akibat melambatnya data PMI manufaktur serta jasa Australia. Sementara itu, Poundsterling (GBP/USD) bergerak terbatas setelah rilis data inflasi Inggris periode April menunjukkan penurunan signifikan ke level 2,8%, yang diikuti oleh kenaikan tingkat pengangguran ke angka 5,0%.

Di sisi Eropa, pergerakan EUR/USD masih dibayangi oleh ekspektasi pasar terhadap langkah European Central Bank (ECB). Investor menaruh harapan pada potensi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juni mendatang sebagai penyeimbang kebijakan moneter di kawasan tersebut.

Sementara untuk pasangan USD/JPY, dukungan datang dari upaya normalisasi kebijakan Bank of Japan (BoJ). Anggota dewan kebijakan BoJ, Junko Koeda, menyebut inflasi inti Jepang yang mendekati target 2% membuka peluang bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga secara bertahap guna menjaga stabilitas ekonomi.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa hingga kuartal III-2026, dolar AS dan franc Swiss akan tetap menjadi instrumen yang menarik bagi investor. Kombinasi suku bunga yang tinggi serta status sebagai aset perlindungan di tengah risiko geopolitik global menjadikan keduanya memiliki fundamental paling kuat.

Lukman memproyeksikan pasangan EUR/USD akan bergerak di rentang 1,1400-1,5500, sementara AUD/USD diperkirakan berada di kisaran 0,7000-0,7100. Untuk pasangan USD/JPY, diprediksi berfluktuasi di level 155-165, dan USD/CHF diproyeksikan berada pada rentang 0,7800-0,8000. Fokus pasar selanjutnya kini tertuju pada rilis data PMI dari berbagai kawasan yang akan menjadi indikator kunci arah aktivitas ekonomi global ke depan.

0ec8a44aa27936c65b2ce749349d4844.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. PT RMK Energy Tbk (RMKE), emiten penyedia jasa logistik batubara terintegrasi dan perdagangan batubara, menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang bertempat di Jakarta pada Kamis (21/5). Dalam RUPST ini, para pemegang saham menyetujui seluruh agenda rapat, termasuk pengesahan laporan tahunan RMKE untuk tahun buku 2025 serta penggunaan laba bersih perusahaan. Salah satu agenda utama…