Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keinginannya untuk terlibat langsung dalam negosiasi restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) dengan Tiongkok. Keterlibatan ini, menurut Purbaya, sangat penting demi memastikan keuangan negara tidak menanggung kerugian yang besar. Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya dalam media briefing di kantor Kementerian Keuangan pada Jumat, 14 November 2025.
Sebelumnya, Purbaya pernah menyebut bahwa pemerintah kemungkinan akan mengirimkan tim khusus untuk bernegosiasi langsung dengan Tiongkok. “Makanya saya bilang kalau nanti mereka (Danantara) diskusi dengan sana (Cina) saya ikut,” tegas Purbaya. Ia menambahkan, tujuannya adalah untuk memastikan negara mendapatkan kesepakatan terbaik dan menghindari kerugian yang signifikan.
Secara pribadi, Purbaya mengungkapkan tidak menginginkan utang proyek Whoosh dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Kalau saya mending enggak bayar,” ujarnya. Meski demikian, ia menyerahkan keputusan akhir terkait hal ini kepada pemimpin tertinggi negara, Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah saat ini tengah mengkaji berbagai opsi untuk mengatasi utang dan potensi kerugian keuangan dari kereta cepat. Berdasarkan diskusi awal, skema yang dipertimbangkan adalah pemerintah menanggung biaya infrastruktur Whoosh, sementara PT Danantara Indonesia akan mengelola aspek operasional dan sarana kereta. Namun, belum ada keputusan final mengenai skema tersebut.
Akhir Oktober lalu, Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria memastikan bahwa restrukturisasi utang Whoosh ditargetkan rampung tahun ini. Dony menyebut, Danantara akan segera berangkat ke Tiongkok untuk menegosiasikan ketentuan pembayaran pinjaman.
“Ini menjadi poin negosiasi kami, berkaitan dengan jangka waktu pinjaman, suku bunga, kemudian juga ada beberapa mata uang yang akan kami diskusikan dengan mereka,” jelas Dony, Kamis, 23 Oktober 2025.
Sejak mulai dibangun pada tahun 2016, proyek Kereta Cepat Whoosh telah menelan total biaya sebesar US$ 7,2 miliar, setara dengan Rp 120 triliun (kurs Rp 16.707 per dolar Amerika Serikat). Angka ini mencakup investasi awal sebesar US$ 6,02 miliar dan pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar US$ 1,21 miliar.
Pendanaan proyek Whoosh sebanyak 75 persen berasal dari pinjaman China Development Bank, sementara 25 persen sisanya didapatkan dari ekuitas PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) memiliki 60 persen saham di KCIC, sedangkan 40 persen sisanya dimiliki oleh konsorsium Tiongkok, Beijing Yawan HSR Co Ltd.







