Ecozone

Anindya Bakrie Optimistis IHSG Tembus Level 9.000 dalam Tiga Tahun

12
×

Anindya Bakrie Optimistis IHSG Tembus Level 9.000 dalam Tiga Tahun

Sebarkan artikel ini
ca83fa2f65773b50b5aa575768b2f07d.jpg
ca83fa2f65773b50b5aa575768b2f07d.jpg

Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyatakan optimisme bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali menembus level 9.000 dalam jangka waktu tiga tahun ke depan, menyusul koreksi tajam sebesar 35 persen dari posisi tertinggi 9.134 pada Januari 2026 menjadi 5.918 pada penutupan sesi pertama perdagangan Jumat (10/7/2026).

Dilansir dari laporan pasar modal terkini, pernyataan tersebut disampaikan Anindya Novyan Bakrie seusai menghadiri seremoni penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk di Bursa Efek Indonesia.

“Dalam jangka waktu tiga tahun, indeks ini bukan hanya kembali normal, tetapi akan lebih tinggi daripada sebelumnya,” kata Anindya Novyan Bakrie.

Keyakinan ini didasarkan pada fundamental ekonomi domestik yang dinilai masih kuat serta prospek besar perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Indonesia tetap dikategorikan sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di kelompok G20.

Inflasi nasional terpantau tetap terkendali dan ruang fiskal pemerintah masih dinilai cukup luas karena rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada pada tingkat yang relatif rendah.

Anindya Novyan Bakrie mengingatkan bahwa pemerintah serta pelaku usaha tidak boleh mengabaikan berbagai kritik terhadap pasar keuangan Indonesia.

“Tentu kita harus hati-hati, segala kritik harus dijawab dengan pekerjaan,” ujar Anindya Novyan Bakrie.

Terkait tekanan pada IHSG akibat penilaian negatif dari pengelola indeks global seperti MSCI dan S&P Dow Jones Indices, ia meminta pelaku pasar bersikap objektif dengan melihat indikator fundamental.

Data menunjukkan pertumbuhan ekonomi nasional dalam tujuh tahun terakhir rata-rata berada pada kisaran 5 persen dengan inflasi yang terjaga di level 1 hingga 2 persen.

Penciptaan lapangan kerja serta berbagai program penguatan ketahanan pangan dan energi dinilai menjadi fondasi positif bagi perekonomian domestik.

Di tengah ketidakpastian global, Anindya Novyan Bakrie menekankan pentingnya menjaga kepercayaan investor sebagai cerminan nilai tukar rupiah dan pergerakan pasar modal.

“Ketika pasar melihat fundamentalnya terus konsisten, nanti pada saatnya persepsi justru berbalik,” ucap Anindya Novyan Bakrie.

Berdasarkan pemantauan Kadin di 38 provinsi, pelaku usaha di berbagai daerah terpantau masih melanjutkan ekspansi meski dengan sikap yang lebih berhati-hati.

Investasi pelaku usaha skala menengah masih tumbuh dibandingkan tahun lalu melalui belanja modal atau capital expenditure, meskipun belum sebesar investasi di sektor strategis seperti hilirisasi mineral.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dunia usaha masih memiliki keyakinan terhadap prospek ekonomi Indonesia dan daya beli masyarakat yang tetap terjaga.

Pemerintah diharapkan terus memperbaiki layanan dan kebijakan pasar modal untuk menjawab masukan investor secara nyata.

Konsistensi dalam menjaga fundamental ekonomi menjadi kunci utama untuk meredam sentimen negatif yang saat ini menekan pasar modal nasional.