Berita

Prabowo Tunjuk Kepala BRIN Baru, Peneliti Soroti Momentum Hari Pahlawan

130
×

Prabowo Tunjuk Kepala BRIN Baru, Peneliti Soroti Momentum Hari Pahlawan

Sebarkan artikel ini
d1774c2c9150b2f5984897251b79e2e6.jpg
d1774c2c9150b2f5984897251b79e2e6.jpg

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 10 November 2025, resmi melantik Arif Satria sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang baru. Penunjukan Rektor IPB University ini menggantikan Laksana Tri Handoko, yang telah memimpin BRIN sejak dibentuk pada tahun 2021, dan disambut dengan beragam harapan dari kalangan peneliti di lembaga tersebut.

Seorang peneliti yang enggan disebutkan namanya bahkan menyebut momentum pergantian pimpinan ini sebagai, “Kado istimewa Hari Pahlawan.” Peneliti tersebut sebelumnya pernah berada di antara periset yang menyatakan kontra terhadap kebijakan *home base unit* pusat riset penelitian yang diterapkan oleh pimpinan sebelumnya.

Peneliti BRIN lainnya yang kini berkantor di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, pascakebijakan *home base unit* pusat riset penelitian, mengungkapkan bahwa sebagian besar peneliti menyambut pergantian pimpinan dengan banyak harapan baru. Ia menilai “dinamika” di internal BRIN sangat terasa selama ini.

“Terutama terkait kebijakan yang berbeda sendiri dan membatasi ruang gerak penelitian termasuk soal perjalanan dinas yang menjadi urat nadi kegiatan riset di lapangan,” ujarnya. Ia juga menyoroti persoalan fasilitas kerja, seperti laptop yang masa sewanya telah habis dan diharuskan dikembalikan.

Peneliti ini berharap di bawah kepemimpinan Arif Satria, arah BRIN bisa lebih membumi dan berpihak pada peneliti. Menurutnya, banyak rekannya sesama peneliti dari daerah masih menaruh harapan agar bisa kembali berkarya di wilayah asalnya. “Riset tidak hanya terpusat, tetapi juga memberi dampak langsung bagi masyarakat dan daerah,” tambahnya.

Harapan serupa terkait koreksi kebijakan *home base unit* penelitian dan penguatan riset di daerah juga disampaikan oleh Hari Suroto, peneliti di Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN. “Kepala BRIN yang baru harus bisa mengoptimalkan riset di daerah terutama lingkungan, alam, dan budaya daerah,” kata Hari saat dihubungi terpisah.

Hari menyoroti dampak kebijakan sentralisasi peneliti ke Jakarta yang menyebabkan kegiatan riset di daerah terputus dan hilang jejak. Ia juga menilai hasil riset BRIN selama ini lebih banyak diarahkan untuk publikasi di jurnal ilmiah bereputasi internasional.

“Sedangkan publikasi dan pemasyarakatan hasil penelitian ke publik kurang, sehingga BRIN kurang dikenal oleh masyarakat,” tuturnya. Ia berharap BRIN ke depan dapat lebih terbuka dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. “Selama ini seolah-olah terlalu eksklusif dan tidak merakyat, semoga ke depan semakin banyak kolaborasi riset dengan kampus dan BRIDA (Badan Riset dan Inovasi Daerah).”

Kolega Hari di pusat riset yang sama, Defri Simatupang, juga menyampaikan harapan serupa. Dia menolak kebijakan sentralisasi dengan menyoroti kesejahteraan dan kondisi kerja peneliti yang kini dipusatkan di Jakarta. “Kami ini biasa di lapangan bukan di kantor tapi tak jelas mau ngapain. Belum lagi rumah sudah jauh (sebelumnya di daerah),” ujarnya.

Seorang periset lainnya menaruh harapan bahwa perubahan kepemimpinan ini akan menjadi titik awal perbaikan birokrasi internal secara menyeluruh. Termasuk dengan independensi arah penelitian tanpa campur tangan politis. “Kami melihat *background* Arif Satria yang sebelumnya adalah Rektor IPB menjadi fondasi penting dalam perbaikan kembali arah penelitian yang lebih independen dan memiliki pendekatan yang lebih humanis dan menjunjung tinggi kaidah sains.”