Jakarta – Presiden Prabowo Subianto meresmikan 166 Sekolah Rakyat di 131 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Peresmian dipusatkan di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1).
Sekolah-sekolah ini sudah beroperasi bertahap sejak Juli 2025. Pemerintah menargetkan 500 Sekolah Rakyat berdiri pada 2029. Masing-masing sekolah berkapasitas 1.000 siswa.
Prabowo berkomitmen menuntaskan kemiskinan ekstrem pada 2029. Ia ingin masyarakat desil 1 dan 2 mengalami perubahan nasib nyata.
“Cita-cita saya di akhir masa jabatan saya tahun 2029 bahwa mereka yang berada di kemiskinan ekstrem, desil 1 dan 2 bisa kita ubah nasibnya,” kata Prabowo.
Ia mengaku bahagia atas peresmian ini. Prabowo juga menjanjikan kesempatan ke luar negeri bagi siswa berprestasi. “Saya sangat terkesima, saya sangat terharu,” ujarnya.
Pembangunan Sekolah Rakyat, menurutnya, adalah terobosan berani. Pendidikan, lanjut Prabowo, adalah solusi menghapus kemiskinan. Namun, ia menyadari pendidikan butuh biaya.
BNI mendukung penuh peresmian ini. BNI terlibat dalam implementasi Sekolah Rakyat.
Kontribusinya berupa penyediaan Agen46 Mini Bank, Bank Sampah, pembukaan rekening siswa, dan Kartu Siswa berbasis reader untuk absensi elektronik.
BNI juga menyiapkan sistem pengelolaan dana dari Kementerian Sosial, payroll guru, transaksi mitra, dan dashboard monitoring keuangan sekolah secara cashless.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan Sekolah Rakyat dirancang memotong rantai kemiskinan. Ini sesuai arahan Presiden Prabowo.
“Sekolah Rakyat kita rancang sebagai upaya untuk memotong rantai kemiskinan,” kata Gus Ipul.
Siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga rentan. Sebanyak 60% orang tua siswa bekerja sebagai buruh dengan penghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan.
Ada 454 siswa belum pernah sekolah, dan 298 siswa putus sekolah. “Sebagian dari mereka bahkan sudah bekerja di usia yang sangat muda,” imbuh Gus Ipul.







