Jakarta – Pemerintah pusat terus berupaya menangani dampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir tahun lalu.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, menyatakan hal tersebut.
Tito menyampaikan pernyataan ini saat penutupan Aceh Ramadhan Festival 2026 di Masjid Raya Baiturrahman, Jumat (6/3).
Bencana alam ini berdampak pada 52 kabupaten/kota di tiga provinsi.
Personel TNI, Polri, dan BNPB diterjunkan langsung ke lapangan untuk membantu masyarakat terdampak.
Tim gabungan menghadapi tantangan berat, termasuk akses jalan yang terputus akibat banjir dan kerusakan infrastruktur.
“Menembus juga sungai-sungai yang putus,” ujar Tito.
Situasi di wilayah terdampak kini berangsur membaik. Listrik hampir pulih di sebagian besar wilayah.
Jaringan internet yang sempat terputus juga mulai kembali normal.
Distribusi logistik ke wilayah pegunungan seperti Aceh Tengah juga semakin lancar.
Aktivitas pasar dan perekonomian masyarakat mulai kembali bergerak.
Pemerintah terus melanjutkan penanganan di sejumlah wilayah, terutama di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya, dan Bireuen.
Fokus penanganan juga diarahkan ke daerah pegunungan seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah.
Pemerintah menyalurkan bantuan tahap pertama, mulai dari perbaikan rumah hingga bantuan perorangan.
“Rumah yang rusak ringan diberikan bantuan Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta,” kata Tito.
Bantuan perorangan meliputi uang lauk pauk Rp15 ribu per hari, bantuan perabotan Rp3 juta, serta stimulan ekonomi Rp5 juta.
Sekitar Rp400 miliar dialokasikan untuk wilayah Aceh, termasuk Rp241,6 miliar yang disalurkan ke Pidie Jaya.
Selain bantuan pemulihan, pemerintah juga menyalurkan bantuan berupa perlengkapan ibadah.
Bantuan tersebut berupa ribuan perlengkapan salat dan Al-Qur’an wakaf.
“Ada 5 ribu peralatan salat. Kemudian Al-Qur’an wakaf dari Bapak Presiden yang totalnya 70 ribu, namun hari ini kita bagikan 5 ribu di sini,” pungkas Tito.













