Jakarta – Pemerintah memberikan pendampingan kepada keluarga seorang anak SD di Kabupaten Ngada, NTT, yang meninggal dunia akibat masalah ekonomi.
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, mengatakan pendampingan difokuskan pada penguatan keluarga, pemenuhan hak pendidikan, dan pemulihan psikologis.
“Yang kami utamakan adalah bagaimana penguatan kepada keluarga,” ujar Arifah, Sabtu (7/2).
Pendampingan difokuskan pada keluarga inti korban yang tinggal bersama nenek, ibu, dan dua saudara kandung.
Pemerintah daerah berupaya memberikan dukungan psikologis, termasuk mendatangkan psikolog klinis.
PPPA juga berkoordinasi untuk memastikan hak pendidikan dua kakak korban terpenuhi.
Arifah menyebut temuan awal menunjukkan adanya akumulasi persoalan yang dihadapi korban.
“Analisa sementara bahwa si anak ini tidak punya tempat untuk bercerita apa yang sebetulnya sedang dirasakan,” ujarnya.
Presiden Prabowo Subianto memberikan atensi khusus dan meminta kementerian terkait berkoordinasi.
Pemerintah juga berkoordinasi dengan Kemendagri dan Kemensos untuk penanganan dan pencegahan.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menilai peristiwa ini sebagai kegagalan sistemik.
Korban adalah siswa kelas IV SD berusia 10 tahun yang ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1).
Polisi menemukan surat berisi pesan perpisahan dan permintaan agar sang ibu tidak menangis.
Korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pensil.
Ibunda korban adalah orang tua tunggal yang bekerja sepanjang hari.
Jika Anda mengalami depresi atau memiliki tendensi bunuh diri, segera hubungi bantuan profesional. Layanan Hotline Gratis Pencegahan Bunuh Diri Kementerian Kesehatan dan RS Marzoeki Mahdi tersedia.







