Berita

Pakar ITB Analisis Faktor Utama Penyebab Banjir Besar Sumatera

490
×

Pakar ITB Analisis Faktor Utama Penyebab Banjir Besar Sumatera

Sebarkan artikel ini
e8fb566be7d658034e9e7efabe6605d2.jpg
e8fb566be7d658034e9e7efabe6605d2.jpg

Fenesia – Pakar dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) membeberkan sejumlah faktor penyebab banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak 24 November 2025. Bencana alam ini telah menimbulkan kerusakan luas, dengan 34 orang meninggal dunia dan 52 warga dinyatakan hilang per 27 November 2025, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dr. Muhammad Rais Abdillah, Ketua Program Studi Meteorologi ITB, menjelaskan bahwa karakteristik curah hujan di wilayah Sumatera bagian utara memang berbeda. Fenomena ini merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor atmosfer, kondisi geospasial, dan kapasitas tampung wilayah.

Sumatera bagian utara saat ini berada pada puncak musim hujan, yang dicirikan oleh pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak dalam setahun. Curah hujan pada periode tersebut tergolong sangat lebat. Berdasarkan laporan lapangan dan media, sejumlah wilayah mencatat curah hujan lebih dari 150 milimeter, bahkan terdapat stasiun BMKG yang merekam lebih dari 300 milimeter, tergolong curah hujan ekstrem. Sebagai perbandingan, banjir besar di Jabodetabek pada Januari 2020 disebabkan curah hujan sekitar 370 milimeter dalam sehari.

Rais menambahkan, fenomena atmosfer yang memperkuat hujan ekstrem ini menunjukkan adanya pusaran atau sirkulasi siklonik di sekitar Sumatera bagian utara. Sistem ini, yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di sekitar Selat Malaka, cukup untuk meningkatkan suplai uap air, memperkuat pembentukan awan hujan, dan memperluas cakupan presipitasi. Selain itu, adanya pengaruh fenomena skala meso dan sinoptik, seperti indikasi cold surge vortex, yaitu hembusan angin kuat dari utara, turut memperkuat pembentukan awan hujan dan memicu peningkatan intensitas presipitasi.

Sementara itu, Dr. Heri Andreas, dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, menekankan bahwa banjir bukan hanya tentang curah hujan, melainkan tentang bagaimana air diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi. Kawasan dengan tutupan vegetasi alami seperti hutan dan rawa memiliki kemampuan serapan air yang jauh lebih tinggi. Namun, ketika kawasan tersebut terdegradasi, kemampuan infiltrasinya menurun signifikan, menyebabkan peningkatan limpasan air (runoff) yang jauh lebih besar.

Menurut Heri, hilangnya kawasan penahan air alami membuat wilayah kehilangan kemampuan menahan limpasan, sehingga air hujan mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir. Ia menyoroti pentingnya penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial untuk mitigasi jangka panjang. Peta bahaya dan risiko banjir saat ini dinilai belum optimal karena keterbatasan data geospasial yang akurat dan pemodelan komprehensif.

Oleh karena itu, upaya mitigasi banjir tidak hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik, tetapi harus disertai pendekatan non-struktural yang lebih komprehensif. Ini meliputi perlindungan kawasan resapan air alami, peningkatan akurasi data geospasial, dan pemodelan banjir.

Para pakar ITB juga menggarisbawahi pentingnya sistem peringatan dini yang tidak hanya akurat secara ilmiah, tetapi juga komunikatif dan mudah dipahami masyarakat. Penguatan literasi kebencanaan, edukasi publik, dan diseminasi informasi yang efektif menjadi kunci dalam membangun ketahanan masyarakat. Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga ilmiah, dan perguruan tinggi seperti ITB, diharapkan mitigasi banjir ke depan dapat mengintegrasikan sains atmosfer, pemodelan geospasial, tata kelola lingkungan, serta komunikasi kebencanaan yang lebih adaptif dan berbasis data.