Jakarta – Dunia pendidikan kembali berduka. Rentetan kasus perundungan yang merenggut nyawa siswa dan mahasiswa terus terjadi sejak 2023 hingga saat ini.
Tragedi ini menyoroti masalah serius kekerasan di lingkungan sekolah dan kampus.
Korban perundungan berasal dari berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari SD hingga perguruan tinggi.
Mereka mengalami kekerasan fisik dan psikologis. Pelakunya adalah teman sebaya, bahkan senior.
Berikut beberapa kasus perundungan yang berujung maut:
Medan, 2023
Ibrahim Hamdi (8), siswa kelas 1 SD di Medan, meninggal dunia pada Juni 2023. Ia diduga menjadi korban perundungan lima kakak kelasnya.
Ibunda korban, Yusraini, mengatakan anaknya sering menangis ketakutan dan demam setelah kejadian itu. Baim sempat dirawat di rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong.
Bekasi, 2023
Seorang siswa SD di Tambun Selatan, Bekasi, berinisial F, meninggal dunia pada 7 Desember 2023. Ia diduga dirundung teman-temannya sejak Februari 2023.
Korban mengalami cedera kaki akibat ditekel saat jam istirahat. Kondisi kakinya memburuk hingga didiagnosis kanker tulang dan harus diamputasi.
Subang, 2024
ARO (9), siswa kelas 3 SDN Jayamukti, Subang, meninggal dunia usai diduga dirundung kakak kelasnya. Korban sempat koma di rumah sakit sebelum meninggal pada 25 November 2024.
Rumah sakit menyatakan korban mengalami mati batang otak. Polisi telah melakukan autopsi dan memeriksa sejumlah saksi, termasuk tiga kakak kelas korban.
Lamongan, 2024
ARS (12), siswa kelas 6 SD di Lamongan, Jawa Timur, meninggal dunia setelah didorong teman sekolahnya pada 19 Februari 2024. Akibatnya, korban mengalami robek pankreas.
Setelah dirawat 17 hari di RSUD dr. Soetomo Surabaya, ARS meninggal dunia pada 11 Maret 2024.
Semarang, 2024
Aulia Risma Lestari, mahasiswa PPDS Universitas Diponegoro (Undip), ditemukan meninggal di kamar kosnya pada 12 Agustus 2024. Ia diduga bunuh diri akibat perundungan dan pemerasan senior.
Tiga terdakwa dalam kasus pemerasan ini telah divonis lebih ringan dari tuntutan jaksa.







