Ecozone

NII Crisis Center Turun Tangan, Mediasi Penolakan Gereja di Lampung

91
×

NII Crisis Center Turun Tangan, Mediasi Penolakan Gereja di Lampung

Sebarkan artikel ini
penolakan-pendirian-gereja-di-bandar-lampung,-nii-crisis-center-siapkan-tim-mediasi
penolakan pendirian gereja di bandar lampung, nii crisis center siapkan tim mediasi

Padang – NII Crisis Center bentuk tim khusus untuk tangani penolakan gereja di Lampung.

Tim ini terdiri dari eks aktivis radikal NII dan eks narapidana terorisme Lampung.

Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, menyatakan Lampung dikenal sebagai daerah toleran.

Ia tak ingin ada insiden intoleransi.

Tim akan bekerja langsung di lapangan.

Mereka akan melakukan mediasi, edukasi, serta sosialisasi toleransi beragama.

Ken mengajak semua pihak tidak berasumsi berlebihan.

Ia menilai masyarakat berpendidikan tinggi, termasuk aparat yang paham hukum.

Musyawarah adalah kunci.

Gereja sebenarnya sudah pernah dibangun di lokasi tersebut sejak 2004, di Jl. Turi Raya Gg. Perintis II Tanjung Senang Bandar Lampung.

Gereja itu pernah dibakar karena provokasi.

Jemaat sempat dikepung dan diisolasi.

Pembangunan diurus lagi pada 2014, namun kembali ditolak warga.

Demo warga pun terjadi.

Di tahun 2026 ini, jemaat kembali mengurus perizinan.

Menurut informasi NII Crisis Center, persyaratan sudah terpenuhi.

Namun, penolakan warga tetap terjadi.

Pemprov Lampung juga berkoordinasi dengan FKPT, Kesbangpol, FKUB, dan Kemenag.

Koordinasi ini membahas soal penolakan pendirian gereja.

Sebelumnya, muncul surat penolakan pendirian gereja di Tanjung Senang Bandar Lampung.

Surat itu ditandatangani 91 orang, termasuk tokoh agama dan warga sekitar lokasi.

Penolakan didasari komposisi penduduk sekitar mayoritas Islam.

Mereka meminta lurah tidak memberikan izin dan mencegah aktivitas peribadatan.

Ken menegaskan, mayoritas muslim seharusnya mencontoh Nabi Muhammad SAW yang sangat toleran.

“Jadi tidak ada alasan saat ini kita membenci umat agama lain atas nama agama,” tegasnya.

Nabi Muhammad pernah mengizinkan pendeta beribadah di Masjid Nabawi.

Nabi juga menjamin keamanan dan kebebasan beragama bagi kaum Nasrani Najran.

Nabi Muhammad menghimbau umat Islam untuk membantu jika ada umat Kristen membangun tempat ibadah.

“Bila kita tidak bisa membantu dana, minimal kita mendukung dan mendoakan mereka, jangan malah mempersulit mereka,” kata Ken.

Toleransi, menurutnya, justru memperkuat nilai-nilai kebaikan, keadilan, dan kasih sayang dalam Islam.

“Saudara saudara kita dari umat Kristiani tersebut mau berdoa loh untuk menjadi manusia yang bertaqwa, bukan mau bermaksiat,” katanya.

“Jadi, tidak ada alasan apapun bagi masyarakat dan aparatur daerah untuk tidak memfasilitasi ketersediaan rumah ibadat ketika sudah memenuhi syarat,” pungkas Ken Setiawan.