Berita

Menkes Imbau Masyarakat Jaga Imun Tubuh Hadapi Influenza A

180
×

Menkes Imbau Masyarakat Jaga Imun Tubuh Hadapi Influenza A

Sebarkan artikel ini
menkes:-influenza-a-(h3n2)-flu-biasa,-sudah-ada-sejak-dulu
menkes: influenza a (h3n2) flu biasa, sudah ada sejak dulu

Jakarta – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan masyarakat tak perlu khawatir berlebihan soal Influenza A (H3N2) subclade K atau superflu.

Menurutnya, virus ini sudah lama ada dan tidak mematikan seperti Covid-19 atau TBC.

“Jadi nggak usah khawatir bahwa ini seperti COVID-19 mematikannya. Tidak. Ini adalah flu biasa. Influenza H3N2,” kata Budi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Budi menjelaskan, penyakit ini bisa kembali lagi jika pernah terkena, seperti flu biasa.

Ia menyebutkan kasus akibat virus itu selalu naik tiap musim dingin di negara empat musim.

Namun, di Indonesia kenaikannya tidak terlalu tinggi.

“Itu sebabnya di negara-negara tersebut ada vaksin influenza setiap tahun yang mereka suntikkan,” katanya.

Meski tidak seberbahaya Covid-19, ia mengingatkan untuk tetap menjaga kesehatan dan imunitas.

Caranya dengan istirahat cukup dan berolahraga rutin.

“Kalau sistem imun kita bagus, itu kita bisa mengatasi sendiri tubuh kita karunia Tuhan ini luar biasa. Ini udah ada tentaranya sendiri yang ngelawan virus-virus itu,” ujar Budi.

Sebelumnya, Kemenkes memastikan vaksin flu yang ada saat ini tetap efektif mengurangi risiko sakit berat, rawat inap, dan kematian akibat influenza A (H3N2).

Hal itu merespons berita tentang situasi influenza A (H3N2) subclade K di media.

Juru Bicara Kemenkes Widyawati mengatakan subklade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan dengan klade atau subklade lainnya.

“Gejala umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan,” katanya di Jakarta, Kamis (1/1/2026).

Pemerintah terus melakukan surveilans dan pelaporan, serta menyiapkan kebijakan dan upaya sesuai dengan situasi terkini.

Hingga akhir Desember 2025, tercatat total ada 62 kasus di 8 provinsi, terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Widyawati memastikan semua varian yang ditemukan sudah dikenal dan bersirkulasi secara global, dan terpantau dalam sistem surveilans WHO.