BeritaEkonomiPemerintahanPolitik

Mahasiswa dan Warga Purwokerto Unjuk Rasa Kritik Kebijakan Pemerintahan Prabowo Gibran

9
×

Mahasiswa dan Warga Purwokerto Unjuk Rasa Kritik Kebijakan Pemerintahan Prabowo Gibran

Sebarkan artikel ini
aksi-mahasiswa-se-banyumas-raya,-gelar-mimbar-bebas-lapak-baca-buku
aksi mahasiswa se banyumas raya, gelar mimbar bebas lapak baca buku

Purwokerto – BEM se-Banyumas Raya menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Alun-alun Purwokerto, Jawa Tengah, pada akhir pekan ini. Demonstrasi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap arah kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Dalam aksinya, mahasiswa sempat menutup separuh ruas Jalan Jenderal Soedirman. Selain orasi, massa aksi menyajikan kegiatan unik berupa lapak baca buku gratis dan pasar baju bekas gratis sebagai pembeda dalam demonstrasi kali ini.

Koordinator lapangan aksi, Setyawan, menyatakan bahwa kehadiran lapak baca dan pasar gratis tersebut merupakan simbol keresahan. Menurutnya, kegelisahan terhadap kebijakan pemerintah saat ini tidak hanya dirasakan oleh kalangan mahasiswa, tetapi juga masyarakat luas.

Setyawan menjelaskan bahwa demonstrasi ini merupakan tindak lanjut dari aksi sebelumnya. Mahasiswa menilai berbagai kebijakan pemerintah saat ini telah menimbulkan persoalan serius, terutama pada sektor ekonomi.

Ia menyebutkan bahwa mahasiswa merasa jenuh dengan kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Menurut Setyawan, kerusakan yang dihasilkan sudah sangat besar meski pemerintahan baru berjalan belum genap dua tahun.

“Kita melihat perekonomian Indonesia stagnan akibat kebijakan fiskal dan kebijakan terkait proyek strategis nasional yang menurut kami tidak sesuai,” ujar Setyawan saat ditemui wartawan, Jumat (26/6).

Ia menegaskan, aksi tersebut bertujuan untuk terus menyuarakan kritik agar pemerintah bersedia mengubah arah kebijakannya.

Terdapat lima tuntutan utama yang dibawa oleh BEM Banyumas Raya dalam aksi tersebut. Tuntutan itu di antaranya menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG), menghentikan proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta menegakkan kembali supremasi sipil, termasuk mengkritisi Undang-Undang TNI dan RUU Polri.

Setyawan memaparkan bahwa aksi kali ini sengaja dikemas secara kreatif. Selain orasi, panitia menyediakan panggung musik, pertunjukan teatrikal, lapak baca gratis, hingga pasar baju bekas agar masyarakat dapat terlibat langsung.

“Kita ingin mimbar bebas bukan hanya orasi, tapi juga ada mimbar kesenian. Makanya ada band, nanti juga ada teatrikal. Di sini juga ada lapak baca, ada pasar gratis,” ucapnya.

Menurut dia, hal itu menjadi bukti bahwa bukan hanya mahasiswa yang merasa muak, tetapi masyarakat pun merasakan hal yang sama.

Ia menambahkan, peserta aksi berasal dari berbagai elemen, tidak terbatas pada mahasiswa organisasi kampus saja. Sejumlah komunitas masyarakat hingga organisasi seperti Aksi Kamisan Purwokerto diketahui turut bergabung dalam aksi tersebut.

“Bisa dilihat sekarang kita sudah lepas almamater semua. Kita melebur menjadi satu dengan masyarakat. Aksi ini menggunakan nama BEM Banyumas Raya dan juga menggandeng teman-teman dari berbagai organisasi,” pungkasnya.