Berita

Libatkan Anak! Psikolog Ungkap Cara Atasi *Post Holiday Blues*

63
×

Libatkan Anak! Psikolog Ungkap Cara Atasi *Post Holiday Blues*

Sebarkan artikel ini
psikolog:-libatkan-anak-persiapan-sekolah-untuk-atasi-post-holiday-blues
psikolog: libatkan anak persiapan sekolah untuk atasi post holiday blues

Jakarta – Psikolog klinis anak dan remaja, Michelle Brigitta Shanny, menyarankan agar orang tua melibatkan anak dalam persiapan hari pertama sekolah.

Tujuannya, mengurangi post holiday blues setelah liburan.

Post holiday blues adalah kondisi psikologis yang umum terjadi setelah libur panjang.

Kondisi ini ditandai dengan perasaan enggan kembali ke rutinitas, penurunan semangat, hingga perubahan suasana hati.

Kondisi ini tak hanya dialami orang dewasa, tetapi juga anak-anak.

Pada anak, post holiday blues muncul karena perubahan mendadak dari pola hidup santai ke jadwal terstruktur.

Transisi ini memicu rasa cemas ringan, kelelahan emosional, hingga resistensi terhadap aktivitas sekolah.

Namun, kondisi ini sementara dan dapat diatasi dengan pendampingan orang tua.

“Orang tua kalau bisa mulai ajak ngobrol anak hal-hal apa yang dia kangen dari sekolah,” kata Michelle.

“Diingatkan lagi kegiatan sekolah seperti teman, guru, atau aktivitas kesukaan anak.”

“Selain itu, anak juga bisa dilibatkan dalam persiapan, seperti menyiapkan tas, alat tulis, dan buku,” tambahnya.

Gejala post holiday blues pada anak terlihat dari menurunnya semangat untuk kembali ke sekolah.

Gejala lainnya adalah mencari alasan untuk tidak masuk, hingga perubahan emosi seperti menjadi lebih sensitif, sedih, atau mudah marah.

Michelle menegaskan orang tua tidak perlu terlalu khawatir.

Kondisi tersebut dapat diatasi dengan mengatur ulang jadwal harian secara bertahap.

Ia menyarankan agar orang tua mulai mengembalikan ritme kebiasaan anak sejak satu pekan sebelum masuk sekolah.

Penyesuaian ini dilakukan perlahan agar anak tidak merasa terkejut saat kembali ke rutinitas.

Orang tua juga perlu membiasakan anak untuk tidur lebih awal serta mengurangi waktu penggunaan gawai.

“Bisa dikembalikan secara bertahap supaya anak tidak kaget,” ujarnya.

“Orang tua juga perlu memvalidasi emosi anak, misalnya ketika anak menolak sekolah, bisa disampaikan bahwa wajar merasa kangen liburan, tetapi tetap harus kembali menjalani tanggung jawab,” lanjutnya.

Untuk membangun kembali semangat anak, orang tua dapat membuat kesepakatan sederhana.

Contohnya, menjadwalkan waktu bersama di akhir pekan.

Dengan pendekatan tersebut, anak diharapkan tetap merasa memiliki momen kebersamaan dengan orang tua.

Selain itu, anak juga diharapkan mampu menjalani aktivitas sekolah dengan lebih siap dan positif.