Berita

Kemenkes Kumpulkan Data Pengaruh MP-ASI Berbasis Pangan Lokal pada Stunting

128
×

Kemenkes Kumpulkan Data Pengaruh MP-ASI Berbasis Pangan Lokal pada Stunting

Sebarkan artikel ini
186b5b927356933a54a0171bf3e254c0.jpg
186b5b927356933a54a0171bf3e254c0.jpg

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi menekan angka stunting masih belum bisa dipastikan efektivitasnya. Pemerintah mengakui masih memerlukan survei mendalam untuk mengukur dampaknya.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benyamin Paulus Oktavianus menyatakan, meskipun program MBG berkaitan erat dengan isu stunting, Kemenkes belum memiliki data pasti untuk mengukur perubahan angka stunting setelah program ini berjalan.

“Kalau ditanya sekarang angkanya berapa, belum bisa. Karena harus dikerjakan dengan teliti dulu, ini medis,” ujarnya dalam konferensi pers terkait program MBG.

Fokus pemerintah saat ini, kata Benyamin, adalah memastikan kelancaran pemberian makanan bergizi kepada anak-anak. Setelah itu, barulah pengukuran berkala dapat dilakukan untuk melihat dampak program terhadap berat badan anak dan indikator lainnya.

Wamenkes menjanjikan hasil survei mengenai dampak MBG terhadap stunting akan segera dipublikasikan. “Karena sayang dong anggaran besar kita enggak berhasil, enggak dimanfaatkan untuk mengatasi stunting,” tegasnya.

Sebelumnya, peneliti dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Betta Anugrah, menyoroti lambatnya penurunan angka stunting. Data menunjukkan penurunan dari 21,5 persen di 2023 menjadi 19,8 persen di 2024.

Betta khawatir target nasional penurunan stunting di 2025 sulit tercapai. Ia juga menyoroti potensi tumpang tindih program gizi akibat banyaknya lembaga yang terlibat tanpa koordinasi yang jelas.

“Tanpa upaya serius membangun basis data terpadu penerima manfaat gizi, risiko double counting dan salah sasaran sangat besar,” kata Betta.

Menurutnya, persoalan utama bukan hanya besaran anggaran, tetapi akurasi data penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan.