Fenesia – Korps Garda Revolusi Islam Iran diduga melakukan serangan terhadap sebuah kapal kargo berbendera Singapura yang melintasi kawasan Selat Hormuz.
Insiden tersebut dilaporkan oleh The Wall Street Journal dengan mengutip keterangan dari sejumlah pejabat serta pelaut asal Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan tersebut, Angkatan Laut Iran tidak memberikan peringatan radio apa pun kepada kapal kargo itu sebelum melepaskan tembakan.
Pihak Iran dilaporkan tidak memberikan perintah kepada kapal untuk kembali ke jalur semula atau berhenti sebelum serangan terjadi.
Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka yang dilaporkan dalam peristiwa penembakan tersebut.
Namun, laporan itu menyebutkan bahwa bagian pusat kendali kapal mengalami kerusakan akibat serangan.
Situasi di kawasan perairan Teluk Persia belakangan ini mengalami ketegangan yang berdampak pada keselamatan pelayaran internasional.
Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO), Arsenio Dominguez, mengumumkan dimulainya proses evakuasi bagi ribuan pelaut yang terjebak di kapal-kapal yang terdampar di Teluk Persia.
Evakuasi tersebut dilakukan menyusul gangguan keamanan yang dipicu oleh serangkaian dugaan serangan di wilayah perairan strategis tersebut.
Dominguez memberikan catatan bahwa kapal kargo Singapura yang mengalami kerusakan tersebut tidak termasuk dalam daftar kapal yang sedang menjalani upaya evakuasi oleh IMO.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengungkapkan bahwa mobilitas kapal tanker di Selat Hormuz tetap berlangsung meski dalam kondisi penuh tekanan.
Menurut data yang dipaparkan Wright pada hari Rabu, terdapat lebih dari 70 kapal yang membawa sekitar 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Ketegangan di kawasan ini terjadi tak lama setelah adanya upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat.
Pada malam sebelum 18 Juni, kedua negara dilaporkan telah menandatangani sebuah memorandum yang mengatur pengakhiran konflik yang dimulai sejak 28 Februari.
Dokumen kesepakatan tersebut menetapkan batas waktu bagi Amerika Serikat untuk mencabut blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Di sisi lain, Iran berkomitmen untuk memulihkan kembali kelancaran lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sebagai bagian dari poin kesepakatan tersebut.
Terkait isu nuklir, Iran juga menyatakan komitmennya untuk tidak mengembangkan atau memperoleh senjata nuklir.
Kedua belah pihak sepakat bahwa masalah program nuklir Iran akan diselesaikan melalui jalur perjanjian terpisah di masa mendatang.
Negosiasi lanjutan mengenai isu nuklir tersebut dijadwalkan berlangsung dalam jangka waktu 60 hari ke depan.
Bagi pihak Teheran, pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini menekan negara tersebut menjadi prioritas utama dalam setiap meja perundingan.








