Berita

Jalan Lintas Timur Sumatera Tersambung Kembali Usai Banjir Surut

77
×

Jalan Lintas Timur Sumatera Tersambung Kembali Usai Banjir Surut

Sebarkan artikel ini
64586b4fbd706bef8bff9d2a1f08c5a7.jpg
64586b4fbd706bef8bff9d2a1f08c5a7.jpg

Medan – Provinsi Sumatera Utara diterjang kerugian ekonomi yang mencapai hampir Rp9,98 triliun akibat banjir dan tanah longsor yang melanda sejak akhir November lalu. Bencana ini tidak hanya merenggut 330 korban jiwa dan membuat 45.032 orang mengungsi, tetapi juga melumpuhkan infrastruktur vital. Kendati demikian, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kini tengah gencar memulihkan konektivitas utama, termasuk Jalan Lintas Timur Sumatera dan sejumlah ruas tol, yang sempat terputus dan kini mulai dapat dilalui kembali.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa pembukaan jalur transportasi merupakan prioritas utama setelah bencana dahsyat ini melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sejak Minggu, 14 Desember 2025, ruas strategis Jalan Lintas Timur Sumatera yang menghubungkan Medan, Binjai, Pangkalan Brandan, Tanjung Pura hingga perbatasan Aceh telah kembali terbuka.

Meski jalur utama telah pulih, penanganan jalan dan jembatan terus dilakukan untuk memastikan akses masyarakat serta distribusi logistik kembali normal. Kementerian PU mengerahkan 96 unit alat berat, enam unit alat pendukung, serta 1.957 unit bahan dan material untuk perbaikan darurat dan pembersihan sisa banjir.

Dody merinci, data terbaru menunjukkan 12 ruas jalan nasional dan empat jembatan nasional masih terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara. Selain itu, 21 ruas jalan daerah dan empat jembatan daerah juga mengalami kerusakan di berbagai kabupaten dan kota. Penanganan darurat dilakukan secara bertahap demi menjaga fungsi jalur vital.

Untuk jalan tol, seluruh ruas terdampak di Sumatera Utara telah beroperasi kembali. Namun, rekayasa lalu lintas berupa contraflow masih diberlakukan di ruas Tol Medan–Kualanamu–Tebing Tinggi sejak 4 Desember 2025. Kementerian PU menargetkan operasional penuh dan penghentian contraflow sebelum 16 Desember 2025.

Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, sebelumnya memperkirakan total kerugian mencapai Rp9,98 triliun. Estimasi ini meliputi kerusakan fasilitas umum hingga pemukiman yang tersebar di 17 kabupaten terdampak.

Kerusakan infrastruktur mencakup 23 ruas jalan nasional, 3 jembatan nasional, serta 25 ruas jalan dan 5 jembatan milik provinsi. Sektor pertanian juga terpukul dengan 4.359 meter saluran irigasi, 26 titik tanggul, 38.878 hektare lahan pertanian, dan 5.750 hektare area puso.

Selain itu, 28.328 hektare lahan perkebunan dan 161.949 ekor hewan ternak ikut terdampak. Sektor pendidikan pun tak luput, tercatat 397 sekolah mengalami kerusakan.

Di sektor kesehatan, 18 unit rumah sakit, 25 unit puskesmas, 19 unit puskesmas pembantu, dan 9 unit polindes terdampak. Sebanyak 99.169 unit rumah dan 131 rumah ibadah juga mengalami kerusakan.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total 420.631 keluarga atau 1.578.014 jiwa terdampak di Sumatera Utara. Selain korban meninggal dan pengungsi, 650 orang mengalami luka-luka dan 136 orang masih dinyatakan hilang. Pemerintah berupaya keras agar pemulihan dapat dikebut untuk mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi segera pulih sepenuhnya.